<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" href="https://pps.iiq.ac.id/jurnal/lib/pkp/xml/oai2.xsl" ?>
<OAI-PMH xmlns="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/
		https://www.openarchives.org/OAI/2.0/OAI-PMH.xsd">
	<responseDate>2026-10-08T07:01:13Z</responseDate>
	<request metadataPrefix="oai_dc" verb="ListRecords">https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/oai</request>
	<ListRecords>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/1872</identifier>
				<datestamp>2024-12-26T16:31:00Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kontekstualisasi Surat Al-Fatihah Dalam Membangun Keluarga  Sakinah</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Kontekstualisasi Surat Al-Fatihah Dalam Membangun Keluarga  Sakinah</dc:title>
	<dc:creator>Paryadi</dc:creator>
	<dc:creator>Sadari</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Contextualization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Al Fatihah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Sakina Family</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kontekstualisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Al Fatihah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Keluarga Sakinah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The sakinah family is the ideal standard of family in Islam. However, creating sakinah in the 
family is not an easy job. There are many variables and dynamics in family life that must be navigated. This 
literature study research aims to find the contextualization of the Al-Fatihah letter in building a sakinah 
family.  This research found the conclusion that First, a sakinah family must be built with basmallah, 
intention for Allah and involving Allah in every family matter. Second, the family must always be grateful 
for the soul mate that God has destined for them. Third, the family gives love to their partner, even though 
each has advantages and disadvantages. Fourth, because the afterlife is the day of retribution, you should 
maintain family orientation towards the afterlife so you can enter heaven with your family as a reward for 
protecting your family. Fifth, a sakinah family must always be in the frame of worship and rely on Allah. 
Sixth, when starting a family, always ask Allah for guidance and guidance to maintain the integrity of your 
family. Seventh, make the families of the prophets and pious people as role models, avoid following the lifestyle 
of the families of Christians and Jews</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID"> Keluarga sakinah adalah standar ideal keluarga dalam Islam. Namun untuk 
mewujudkan sakinah dalam keluarga bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak variabel dan 
dinamika dalam kehidupan keluarga yang harus dilalui. Penelitian studi pustaka ini bertujuan 
untuk menemukan kontekstualisasi surat Al-Fatihah dalam membangun keluarga sakinah.  
Penelitian ini menemukan kesimpulan bahwa Pertama, keluarga sakinah harus dibangun 
dengan basmallah, niat karena Allah dan melibatkan Allah dalam setiap urusan keluarga. 
Kedua, keluarga harus senantiasa bersyukur terhadap jodoh yang Allah taqdirkan. Ketiga, 
dalam keluarga memberikan kasih sayang kepada pasangannya, meski masing-masing 
memiliki kelebihan dan kekurangan. Keempat, karena alam akherat sebagai hari pembalasan, 
seyogyanya manjaga orientasi keluarga hingga menuju akherat untuk bisa masuk surga 
bersama keluarga sebagai balasan atas penjagaan keluarga. Kelima, keluarga sakinah harus 
senantiasa dalam bingkai ibadah dan bersandar kepada Allah. Keenam, dalam berkeluarga 
senantiasa meminta petunjuk, bimbingan kepada Allah untuk terjaga kelurusan keluarganya. 
Ketujuh, menjadikan keluarga para nabi dan orang-orang sholeh sebagai teladan, 
menghindarkan dari mengikuti gaya hidup keluarga orang-orang Nasrani dan Yahudi</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/1872</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n1.1-15</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 1-15</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 1-15</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/1872/500</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/1876</identifier>
				<datestamp>2024-12-26T16:31:00Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Moderasi Beragama Dalam Perspektif Sa’id Hawwa’ Dan  Implementasinya Terhadap Nilai Humanisme  (Kajian Kitab al-Asas Fi al-Tafsir)</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Moderasi Beragama Dalam Perspektif Sa’id Hawwa’ Dan  Implementasinya Terhadap Nilai Humanisme  (Kajian Kitab al-Asas Fi al-Tafsir)</dc:title>
	<dc:creator>Yevi Juniarti</dc:creator>
	<dc:creator>Muhammad Shohib</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Moderation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Said Hawwa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Humanism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Moderasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Sadi Hawwa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Humanisme</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Religious moderation means practicing religion by choosing the middle path, in the sense of not 
being radical, not extreme, not rigid, and not excessive in dealing with differences in groups that are not the 
same as ourselves. It also means not being overly excessive in practicing religious teachings to the point of 
neglecting the surrounding world and disregarding others. Respecting fellow human beings is also embodied in 
Pancasila, which states &quot;just and civilized humanity,&quot; meaning we must respect fellow human beings regardless 
of race, ethnicity, group, social status, or even religion. In this study, the researcher will discuss the 
interpretation of religious moderation from the perspective of Sa'id Hawwa' and how the interpretation of 
moderation is implemented towards humanistic values. The type of research used in this study is library 
research. In the exploration of verses, the researcher uses a conceptual thematic approach, while the approach 
used in the interpretation is the thematic figure. The data sources used in this study consist of primary and 
secondary data. The techniques used in data analysis are descriptive and analytical methods. The results of 
the research on religious moderation from Sa'id Hawwa's perspective are that Islam has offered the value of 
moderation to humans. The purpose of this moderation is none other than to unite and respect differences, 
achieve peace, apply justice in all actions, promote good and prevent evil, and obey the government regardless 
of race, ethnicity, or even religion. The implementation of the interpretation of moderation verses towards 
humanistic values is to realize universal human values and teach the protection of human rights for all 
individuals, regardless of race, ethnicity, group, social status, or even religion. This includes the responsibility 
to ensure the welfare of all people. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Moderasi beragama artinya mengamalkan agama dengan memilih jalan tengah, 
dalam artian tidak radikal, tidak ekstrim, tidak kaku, dan tidak berlebihan dalam menyikapi 
perbedaan kelompok yang tidak sama dengan diri kita. Artinya juga tidak berlebihan dalam 
mengamalkan ajaran agama hingga mengabaikan dunia sekitar dan mengabaikan orang lain. 
Menghargai sesama manusia juga tertuang dalam Pancasila yang menyatakan “kemanusiaan 
yang adil dan beradab”, artinya kita harus menghormati sesama manusia tanpa membedakan 
ras, suku, golongan, status sosial, bahkan agama. Dalam penelitian ini peneliti akan 
membahas tentang penafsiran moderasi beragama dalam sudut pandang Sa’id Hawwa’ dan 
bagaimana penafsiran moderasi tersebut diimplementasikan terhadap nilai-nilai humanistik. 
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. Dalam 
eksplorasi ayat, peneliti menggunakan pendekatan tematik konseptual, sedangkan 
pendekatan yang digunakan dalam penafsiran adalah tokoh tematik. Sumber data yang 
digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik yang digunakan 
dalam analisis data adalah metode deskriptif dan analitis. Hasil penelitian moderasi beragama 
dalam perspektif Sa’id Hawwa adalah Islam telah menawarkan nilai moderasi pada manusia. 
Tujuan dari moderasi ini tidak lain adalah untuk mempersatukan dan menghormati 
perbedaan, mencapai perdamaian, menerapkan keadilan dalam segala tindakan, memajukan 
kebaikan dan mencegah kejahatan, serta menaati pemerintah tanpa memandang ras, suku, 
atau bahkan agama. Penerapan penafsiran ayat moderasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan 
adalah untuk mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan universal dan mengajarkan perlindungan 
hak asasi manusia bagi semua individu, tanpa membedakan ras, suku, golongan, status sosial, 
bahkan agama. Hal ini termasuk tanggung jawab untuk menjamin kesejahteraan semua orang.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/1876</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n1.16-33</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 16-33</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 16-33</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/1876/501</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1878</identifier>
				<datestamp>2024-12-25T02:40:33Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1880</identifier>
				<datestamp>2024-12-25T02:40:33Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/1894</identifier>
				<datestamp>2024-12-25T02:05:20Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">PENYIMPANGAN SEKSUAL (LGBT) DALAM  PANDANGAN HUKUM ISLAM</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PENYIMPANGAN SEKSUAL (LGBT) DALAM  PANDANGAN HUKUM ISLAM</dc:title>
	<dc:creator>Huzaemah</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Penyimpangan Seksual</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">LGBT</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hukum Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Masalah penyimpangan seksual (lesbian, gay, biseksual dan 
transgender) sedang dalam perdebatan yang hangat dibicarakan dalam 
masyarakat, mulai dari media cetak dan elektronik, ada dari kalangan 
tokoh Islam sendiri yang membolehkan homo dan lesbi, dengan dasar 
bahwa tidak ada perbedaan antara homo dan bukan homo dan tidak ada 
perbedaan antara lesbi dan bukan lesbi. Menurut mereka bahwa 
manusia cuma bisa berlomba berbuat amal kebajikan sesuai perintah 
Tuhan. Islam mengajarkan bahwa seorang homo atau lesbi 
sebagaimana manusia lainnya, sangat berpotensi menjadi orang yang 
saleh atau takwa selama dia menjunjung tinggi nilai-nilai agama, yaitu 
tidak menduakan Tuhan (syirik), meyakini kerasulan Muhammad Saw 
serta menjalankan ibadah yang diperintahkan. Dia tidak menyakiti 
pasangannya dan berbuat baik kepada sesama manusia, kepada sesama 
makhluk dan peduli kepada lingkungannya. Bahkan menurutnya, 
menarik sekali membaca ayat-ayat Al-Qur‟an soal hidup berpasangan 
(Q.S. al-Rum : 21, Q.S al-Dzariyat : 49 dan Q.S Yasin : 36) di sana 
tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal 
gender. Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, 
melainkan bisa homo, dan bisa lesbi.
Sekarang ini Indonesia semakin liberal. Orang-orang homo dan 
lesbi semakin giat mengekspos perbuatannya secara terbuka, bahkan 
berusaha mencari legitimasi dalil dari A1-Qur‟an, memelintir 
maknanya dengan tidak melihat kepada ayat-ayat yang lain yang 
berkenaan dengan masalah yang ada. Pada hal ayat-ayat Al-Qur‟an 
saling menafsirkan antara satu ayat dengan ayat lainnya. Hal ini 
disebabkan karena mereka hanya memiliki sedikit ilmu pengetahuan 
agama, belum banyak membaca tafsir dan Hadis, tidak mengetahui 
ushul fiqh dan sarana-sarana ijtihad yang lainnya, sehingga menurut 
mereka tidak ada larangan dari Al-Qur‟an dan Hadis untuk melakukan 
homoseksual dan lesbian sehingga menurut mereka, bahwa pelarangan 
terhadap LBGT adalah pelarangan terhadap HAM. Berkenaan dengan 
masalah ini, maka dalam artikel ini akan dibahas bagaimana pandangan 
hukum Islam terhadap penyimpangan seksual (LGBT). Adapun 
pembahasan berkisar pada pengertian homoseksual, lesbian dan 
hukumnya menurut pandangan Islam dan sanksi atas pelakunya 
dampak negatif yang ditimbulkannya dan upaya penanggulangannya.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Masalah penyimpangan seksual (lesbian, gay, biseksual dan 
transgender) sedang dalam perdebatan yang hangat dibicarakan dalam 
masyarakat, mulai dari media cetak dan elektronik, ada dari kalangan 
tokoh Islam sendiri yang membolehkan homo dan lesbi, dengan dasar 
bahwa tidak ada perbedaan antara homo dan bukan homo dan tidak ada 
perbedaan antara lesbi dan bukan lesbi. Menurut mereka bahwa 
manusia cuma bisa berlomba berbuat amal kebajikan sesuai perintah 
Tuhan. Islam mengajarkan bahwa seorang homo atau lesbi 
sebagaimana manusia lainnya, sangat berpotensi menjadi orang yang 
saleh atau takwa selama dia menjunjung tinggi nilai-nilai agama, yaitu 
tidak menduakan Tuhan (syirik), meyakini kerasulan Muhammad Saw 
serta menjalankan ibadah yang diperintahkan. Dia tidak menyakiti 
pasangannya dan berbuat baik kepada sesama manusia, kepada sesama 
makhluk dan peduli kepada lingkungannya. Bahkan menurutnya, 
menarik sekali membaca ayat-ayat Al-Qur‟an soal hidup berpasangan 
(Q.S. al-Rum : 21, Q.S al-Dzariyat : 49 dan Q.S Yasin : 36) di sana 
tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal 
gender. Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, 
melainkan bisa homo, dan bisa lesbi.
Sekarang ini Indonesia semakin liberal. Orang-orang homo dan 
lesbi semakin giat mengekspos perbuatannya secara terbuka, bahkan 
berusaha mencari legitimasi dalil dari A1-Qur‟an, memelintir 
maknanya dengan tidak melihat kepada ayat-ayat yang lain yang 
berkenaan dengan masalah yang ada. Pada hal ayat-ayat Al-Qur‟an 
saling menafsirkan antara satu ayat dengan ayat lainnya. Hal ini 
disebabkan karena mereka hanya memiliki sedikit ilmu pengetahuan 
agama, belum banyak membaca tafsir dan Hadis, tidak mengetahui 
ushul fiqh dan sarana-sarana ijtihad yang lainnya, sehingga menurut 
mereka tidak ada larangan dari Al-Qur‟an dan Hadis untuk melakukan 
homoseksual dan lesbian sehingga menurut mereka, bahwa pelarangan 
terhadap LBGT adalah pelarangan terhadap HAM. Berkenaan dengan 
masalah ini, maka dalam artikel ini akan dibahas bagaimana pandangan 
hukum Islam terhadap penyimpangan seksual (LGBT). Adapun 
pembahasan berkisar pada pengertian homoseksual, lesbian dan 
hukumnya menurut pandangan Islam dan sanksi atas pelakunya 
dampak negatif yang ditimbulkannya dan upaya penanggulangannya.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2018-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/1894</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v3n2.1-28</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 3 No 2 (2018): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 1-28</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 3 No 2 (2018): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 1-28</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v3n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/1894/507</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/1895</identifier>
				<datestamp>2024-12-25T02:05:20Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">REORIENTASI PEMIKIRAN AL-GHAZALI TENTANG MASLAHAH MURSALAH DENGAN PEMBARUAN HUKUM ISLAM </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">REORIENTASI PEMIKIRAN AL-GHAZALI TENTANG MASLAHAH MURSALAH DENGAN PEMBARUAN HUKUM ISLAM </dc:title>
	<dc:creator>Ahmad Munif Suratmaputra</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Reorientasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Al-Ghazali</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Maslahah Mursalah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Wahyu terbagi menjadi dua istilah yakni wahyu matluw, yaitu al-Qur‟an al-Karim, dan wahyu gairu matluw, yaitu asSunnah dan al-Hadis. Kehadiran hukum Allah atau hukum Islam 
(ahkam syar‟iyyah) yang harus dijadikan pedoman dan acuan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi umat manusia. Atas dasar ini, para pakar fiqh dan ushul fiqh telah konsensus bahwa maslahat atau kemaslahatan merupakan tujuan inti pensyari‟ atau hukum Islam : sehingga muncullah ungkapan yang sangat populer dikalangan mereka : فثم حكم الله أينما كانت الدصلحة (dimana ada maslahat, disanalah ada hukum Allah). 
Menyadari bahwa tidak semua masalah kehidupan ini hukumnya ditemukan didalam al-Qur‟an dan as-Sunnah/Hadis, Islam meletakkan prinsip-prinsip umum dan kaidah-kaidah dasar yang dapat dijadikan oleh ahl az-Zikri (para mujtahid) untuk mengembangkan hukum Islam dan memecahkan masalah-
masalah baru melalui ijtihad. Salah satu prinsip umum dan kaidah dasar yang diletakkan oleh Islam ialah bahwa tujuan pokok tujuan pensyar‟i atau hukum Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan (jalb al-masalaih). Dari prinsip inilah prinsip para imam mujtahid dan pakar ushul fiqh mengembangkan hukum Islam dan berusaha memecahkan masalah-masalah baru yang dihadapi oleh umat Islam yang belum ada penegasan hukumnya di dalam al-Qur‟an dan as-Sunnah melalui qiyas, istihsan, maslahah mursalah dan sad az-Zari‟ah.  
Al-Ghazali (450–505 H.)  sebagai pakar ushul fiqh dari kalangan madzhab Syafi‟i, mempunyai pemikiran-pemikiran yang cukup menarik tentang maslahah mursalah. Pandangannya tentang maslahah mursalah merupakan jalan tengah antara pihakpihak yang sama sekali tidak mempergunakan maslahah mursalah sebagai dalil hukum dan mereka yang begitu berani dalam menjadikan maslahah mursalah. 
</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Wahyu terbagi menjadi dua istilah yakni wahyu matluw, yaitu al-Qur‟an al-Karim, dan wahyu gairu matluw, yaitu asSunnah dan al-Hadis. Kehadiran hukum Allah atau hukum Islam 
(ahkam syar‟iyyah) yang harus dijadikan pedoman dan acuan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi umat manusia. Atas dasar ini, para pakar fiqh dan ushul fiqh telah konsensus bahwa maslahat atau kemaslahatan merupakan tujuan inti pensyari‟ atau hukum Islam : sehingga muncullah ungkapan yang sangat populer dikalangan mereka : فثم حكم الله أينما كانت الدصلحة (dimana ada maslahat, disanalah ada hukum Allah). 
Menyadari bahwa tidak semua masalah kehidupan ini hukumnya ditemukan didalam al-Qur‟an dan as-Sunnah/Hadis, Islam meletakkan prinsip-prinsip umum dan kaidah-kaidah dasar yang dapat dijadikan oleh ahl az-Zikri (para mujtahid) untuk mengembangkan hukum Islam dan memecahkan masalah-
masalah baru melalui ijtihad. Salah satu prinsip umum dan kaidah dasar yang diletakkan oleh Islam ialah bahwa tujuan pokok tujuan pensyar‟i atau hukum Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan (jalb al-masalaih). Dari prinsip inilah prinsip para imam mujtahid dan pakar ushul fiqh mengembangkan hukum Islam dan berusaha memecahkan masalah-masalah baru yang dihadapi oleh umat Islam yang belum ada penegasan hukumnya di dalam al-Qur‟an dan as-Sunnah melalui qiyas, istihsan, maslahah mursalah dan sad az-Zari‟ah.  
Al-Ghazali (450–505 H.)  sebagai pakar ushul fiqh dari kalangan madzhab Syafi‟i, mempunyai pemikiran-pemikiran yang cukup menarik tentang maslahah mursalah. Pandangannya tentang maslahah mursalah merupakan jalan tengah antara pihakpihak yang sama sekali tidak mempergunakan maslahah mursalah sebagai dalil hukum dan mereka yang begitu berani dalam menjadikan maslahah mursalah. 
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2018-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/1895</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v3n2.29-64</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 3 No 2 (2018): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 29-64</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 3 No 2 (2018): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 29-64</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v3n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/1895/508</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1960</identifier>
				<datestamp>2024-12-25T02:40:33Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1961</identifier>
				<datestamp>2024-12-25T02:40:33Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1962</identifier>
				<datestamp>2024-12-25T02:40:33Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1964</identifier>
				<datestamp>2024-12-25T02:40:33Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1967</identifier>
				<datestamp>2024-12-27T02:29:54Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1968</identifier>
				<datestamp>2024-12-27T02:29:58Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1971</identifier>
				<datestamp>2024-12-27T02:30:04Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1973</identifier>
				<datestamp>2024-12-27T02:30:09Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1974</identifier>
				<datestamp>2024-12-27T02:30:14Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1975</identifier>
				<datestamp>2024-12-27T02:30:20Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1977</identifier>
				<datestamp>2024-12-26T06:32:55Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1978</identifier>
				<datestamp>2024-12-26T06:33:04Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1979</identifier>
				<datestamp>2024-12-26T06:33:16Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1980</identifier>
				<datestamp>2024-12-26T06:33:27Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1981</identifier>
				<datestamp>2024-12-26T06:33:39Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1982</identifier>
				<datestamp>2024-12-26T06:33:51Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1983</identifier>
				<datestamp>2024-12-26T06:34:02Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1984</identifier>
				<datestamp>2024-12-26T06:36:51Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1985</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:18:49Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1986</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:18:53Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1988</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:18:57Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1989</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:19:01Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1990</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:19:05Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1991</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:19:09Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1992</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:19:13Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1993</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:19:18Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1994</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:19:22Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1997</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:16:15Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1998</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:16:19Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/1999</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:16:22Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2000</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:16:27Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2001</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:16:31Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2002</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:16:44Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2003</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:16:48Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2004</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:17:01Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2005</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:20:26Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2006</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:20:30Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2007</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:20:33Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2008</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:20:37Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2009</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:20:42Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2010</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:20:45Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2011</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:20:49Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2012</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:20:53Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2013</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:20:57Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2014</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:22:38Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2015</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:22:43Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2016</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:22:51Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2017</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:23:29Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2018</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:23:33Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2019</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:23:38Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2020</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:23:41Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2021</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:23:45Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2022</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:23:49Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2029</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:11:40Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2030</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:11:48Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2031</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:11:53Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2032</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:12:02Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2033</identifier>
				<datestamp>2024-12-27T03:19:40Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="id-ID">Kapabilitas Santri Dalam Pencapaian Hasil Pembelajaran Pada Kelas Excellent di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Sumatera Selatan</dc:title>
	<dc:creator>Muyasaroh</dc:creator>
	<dc:creator>Herlina</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Pondok Pesantren</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Santri</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kelas Excellent</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Pembelajaran</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">In an effort to develop quality alumni, Islamic boarding schools have implemented learning innovation programs by forming several Excellent classes that offer exclusive programs compared to Regular class types. For example, the Al- Ittifaqiah Islamic boarding school located in Indralaya, South Sumatra province, has implemented six Excellent classes based on memorizing the Koran. The formation of this Excellent class aims to produce a generation of Qur'anists who have a deep understanding of the contents of the Qur'an and become intellectuals who are proficient in various fields of general, exact and social sciences. The students in the Excellent class face various challenges during their education and learning period. Therefore, this research was conducted with the aim of evaluating and formulating strategies that can optimally improve the quality of learning. In this research, qualitative data measurements and analysis were carried out using a descriptive approach that explained in detail and was carried out through field research. Data collection and analysis was carried out through in-depth interviews, participant observation and document review. This research produces stages and steps for prevention and action against cases faced by students. Persuasive and cooperative approaches are prioritized in efforts to improve the quality of learning and teaching situations, as well as achieving Excellent class learning targets. From the evaluation results, it can be concluded that it is important to build a comfortable and focused learning system, so that it can create alumni who are competent in the fields of Tahfidz Al-Qur'an, religious sciences and general science.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Dalam upaya mengembangkan alumni yang berkualitas, pondok pesantren telah melaksanakan program inovasi pembelajaran dengan membentuk beberapa kelas Excellent yang menawarkan program eksklusif dibandingkan dengan jenis kelas Regular. Sebagai contoh, pondok pesantren Al-Ittifaqiah yang terletak di Indralaya, provinsi Sumatera Selatan, telah menerapkan enam kelas Excellent berbasis hafalan Al- Qur'an. Pembentukan kelas Excellent ini bertujuan untuk mencetak generasi Qur’ani yang memiliki pemahaman mendalam terhadap isi kandungan Al-Qur'an dan menjadi intelektual yang mahir dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan umum, eksakta, dan sosial. Para santri di kelas Excellent menghadapi berbagai tantangan selama masa pendidikan dan pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melakukan evaluasi dan merumuskan strategi yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara optimal. Dalam penelitian ini, dilakukan pengukuran dan analisis data secara kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang menjelaskan secara rinci dan dilaksanakan melalui penelitian lapangan (field research). Pengumpulan dan analisis data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview), observasi partisipan (participant observation), serta kajian dokumen. Penelitian ini menghasilkan tahapan dan langkah-langkah pencegahan serta penindakan terhadap kasus-kasus yang dihadapi oleh para santri. Pendekatan persuasif dan kooperatif diutamakan dalam upaya meningkatkan kualitas situasi belajar dan mengajar, serta mencapai target pembelajaran kelas Excellent. Dari hasil evaluasi, dapat disimpulkan bahwa penting untuk membangun sistem pembelajaran yang nyaman dan terarah, sehingga dapat mewujudkan alumni yang kompeten dalam bidang Tahfidz Al-Qur'an, ilmu agama, dan ilmu pengetahuan umum.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2023-12-26</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2033</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v8n2.148-164</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 8 No 2 (2023): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 148-164</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 8 No 2 (2023): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 148-164</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v8n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2033/573</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2034</identifier>
				<datestamp>2025-02-07T04:12:13Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2120</identifier>
				<datestamp>2026-06-08T10:13:05Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Implementasi Fungsi Administrasi Dakwah Pesantren Pasal 39  Undang-undang no.18 Tahun 2019 di Pondok Pesantren Darus-Sunnah Ciputat</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Implementasi Fungsi Administrasi Dakwah Pesantren Pasal 39  Undang-undang no.18 Tahun 2019 di Pondok Pesantren Darus-Sunnah Ciputat</dc:title>
	<dc:creator>Mohamad Yasir Arfan</dc:creator>
	<dc:creator>Rahmat Salam</dc:creator>
	<dc:creator>Izzatusholekha</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Implementation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Islamic Boarding School Da'wah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Administrative Function</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">UU.No.18/2019</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Implementasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Dakwah Pesantren</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Fungsi Administrasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">UU.No.18/2019</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">This research discuss the implementation of the da'wah administration function carried out by the Darus-Sunnah Ciputat Islamic boarding school based on article 39 of Law No.18/2019, based on data from the Indonesian Ministry of Religion; The number of Islamic boarding schools throughout Indonesia has statistically reached around 39,220. However, the process of implementing the missionary function carried out by Islamic boarding schools is faced with obstacles and challenges ranging from good planning, direction to implementation. Referring to William H. Newman's theory through 7 (seven) general administrative function processes consisting of: planning, organizing, coordinating, reporting, budgeting, staffing, and directing. Want to measure how the implementation of the da'wah administration function is carried out. The type of research used is qualitative research with a descriptive method, namely trying to explain problem solving using available data through interviews, observation and documentation studies. Based on the analysis, the results obtained from the research and discussion show that the implementation of the da'wah administration function carried out by the Darus-Sunnah Islamic boarding school through seven administrative function processes has been running quite optimally, but with continuous efforts to improve the shortcomings of these administrative function processes.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penelitian ini membahas implementasi fungsi administrasi dakwah yang dijalankan pondok pesantren Darus-Sunnah Ciputat berdasarkan pasal 39 UU No.18/2019. Berdasarkan data Kemenag RI; Jumlah pesantren di seluruh Indonesia secara statistik sudah mencapai sekitar 39.220. Namun begitu, proses pelaksanaan fungsi dakwah yang dijalankan pesantren dihadapkan pada hambatan dan tantangan mulai dari perencanaan yang baik, pengarahan sampai kepada pelaksanaan. Mengacu kepada teori William H. Newman melalui 7 (tujuh) proses fungsi administrasi secara umum yang terdiri dari : planning, organizing, coordinating, reporting, budgeting, staffing, dan directing. Ingin mengukur bagaimana implementasi fungsi administrasi dakwah itu dijalankan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif yaitu berusaha untuk memaparkan mengenai pemecahan masalah dengan menggunakan data-data yang tersedia melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Berdasarkan analisis, diperoleh hasil dari penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa implementasi fungsi administrasi dakwah yang dijalankan pesantren Darus-Sunnah melalui tujuh proses fungsi administrasi sudah berjalan cukup maksimal, namun dengan terus berupaya memperbaiki kekurangan dari proses-proses fungsi administrasi tersebut. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2120</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n2.1-18</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 2 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 1-18</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 2 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 1-18</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2120/575</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2124</identifier>
				<datestamp>2026-06-08T10:12:55Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pandangan Yusuf Al-Qaradhawi Terhadap Hadis Larangan Perempuan Bepergian Tanpa Mahram Dan Relevansinya Dengan Pelaksanaan Haji Bagi Perempuan</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pandangan Yusuf Al-Qaradhawi Terhadap Hadis Larangan Perempuan Bepergian Tanpa Mahram Dan Relevansinya Dengan Pelaksanaan Haji Bagi Perempuan</dc:title>
	<dc:creator>Chalimatus Sadijah</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">hadith</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">mahram</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">pilgrimage</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">women</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">al-Qaradhawi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">This study aims to explain Yusuf al-Qaradhawi's views on hadiths that prohibit women from traveling without a mahram. This opinion will have implications for the legal status of women's pilgrimage journeys based on Yusuf al-Qaradhawi's understanding of the hadiths. This research is a library study using a descriptive-analytical method. To analyze the data, qualitative content analysis is employed, examining the texts of hadiths and the writings of Yusuf al-Qaradhawi. After analyzing the data, this study concludes that according to al-Qaradhawi, women are permitted to travel without being accompanied by a mahram as long as their safety is guaranteed. This opinion also applies to pilgrimage journeys, as the hadiths of the Prophet do not explicitly specify certain types of travel. Al-Qaradhawi argues that the main purpose of requiring a mahram for women in these hadiths is to ensure their safety.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan Yusuf Al-Qaradhawi terhadap hadis-hadis larangan perempuan melakukan perjalanan tanpa disertai mahramnya. Pendapat tersebut akan berimplikasi pada status hukum perjalanan haji perempuan berdasarkan konstruk pemahaman hadis Yusuf al-Qaradhawi. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (library research) dengan metode deskriptif-analisis. Untuk menganalisis data, penelitian ini menggunakan analisis konten kualitatif, yaitu kajian teks-teks hadis serta tulisan-tulisan Yusuf al-Qaradhawi. Setelah data-data tersebut dianalisis, penelitian ini menyimpulkan bahwa bahwa berdasarkan pandangan al-Qaradhawi, perempuan diperbolehkan melakukan perjalanan tanpa ditemani mahramnya selama dijamin kemanannya. Pendapat tersebut juga mencakup perjalanan haji, karena hadis-hadis Nabi tidak secara eksplisit menyebutkan perjalanan tertentu. Pendapat al-Qaradhawi tersebut didasarkan pada tujuan utama keharusan penyertaan mahram bagi perempuan pada hadis-hadis tersebut adalah untuk menjamin keamanannya. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2124</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n2.19-33</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 2 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 19-33</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 2 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 19-33</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2124/576</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2126</identifier>
				<datestamp>2025-01-21T04:09:58Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Model Pembelajaran Sinektik Perspektif Al-Qur’an dan Implementasinya Pada Pendidikan Akidah-Akhlak Bagi Remaja</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Model Pembelajaran Sinektik Perspektif Al-Qur’an dan Implementasinya Pada Pendidikan Akidah-Akhlak Bagi Remaja</dc:title>
	<dc:creator>Asep Maskur</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Synectic</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Learning model</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Al-Qur’an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Sinektik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Model pembelajaran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Al-Qur’an</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">The Qur'anic Perspective Synectic Learning model is a learning model designed and constructed to enhance and develop students' spiritual, intellectual, emotional, and social creativity. The development and improvement are carried out through a series of activities in the form of optimizing the function of all potentials possessed, especially hearing, vision, and heart, guided by the principles and instructions of the Qur'an. The implementation of the learning model is carried out using two strategies, The first, namely combining every element that at first glance seems unrelated. The second, making analogies to find something or new meaning and make something foreign familiar. This conclusion is obtained through analisiys of the results Synectic Learning model and Progressivism philosophy theory. John Dewey believes that Progressivism is a school of educational philosophy that is forward-looking and positions students as one of the academic subjects with provisions and potential in their self-development and can solve various problems. This philosophy also holds that every human being, through multiple experiences, always wants change, development, and improvement. interpreting Qur'anic verses, especially Sura al-Nahi verses78 and Ali Imran verses 190 to 195 on Ulu al-Albâb and the theoretical approach of progressivism philosophy. In the view of Ibn Kathir, Sayyid Qutbh, and Quraish Shihab, Ulu al-Albâb, with all its characteristics, has inspired an ideal figure that should be born as a product of a learning process</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Model Pembelajaran Sinektik Perspektif Al-Qur’an merupakan sebuah model pembelajaran yang dirancang dan dikonstruksikan untuk meningkatkan serta mengembangkan kreativitas spiritual, intelektual, emosional dan sosial. Pengembangan dan peningkatan tersebut dilakukan melalui serangkaian kegiatan, dalam bentuk optimalisasi fungsi seluruh potensi yang dimiliki terutama pendengaran, penglihatan dan hati, dengan berpedoman pada prinsip-prinsip dan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an. Implementasi model pembelajaran tersebut, dilakukan dengan mengunakan dua strategi yaitu; Pertama, menggabungkan setiap unsur yang sepintas nampak tidak berhubungan. Kedua, membuat analogi untuk menemukan sesuatu atau makna baru serta membuat sesuatu yang asing menjadi familiar. Kesimpulan tersebut diperoleh melalui hasil analisa terkait diskursus model pembelajaran sinektik dan teori filsafat Progresivisme. John Dewey berpandangan bahwa: Progresivisme merupakan sebuah aliran filsafat pendidikan yang berorientasi ke depan dan memposisikan peserta didik sebagai salah satu subjek pendidikan yang memiliki bekal dan potensi dalam pengembangan dirinya dan memiliki kemampuan untuk meyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Filsafat ini juga berpandangan bahwa setiap manusia melalui berbagai pengalamannya selalu menginginkan perubahan, selalu berkembang dan menjadi lebih baik. Kegiatan sinektik dan filsafat Progresivisme, keduanya menegaskan bahwa kreativitas merupakan unsur yang sangat penting dalam perkembangan kehidupan manusia. Demikian pula penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an terutama surat al-Nahl ayat 78 dan surat Ali Imran ayat 190 sampai 195 tentang Ulu al-Albâb dan. Dalam pandangan Ibn Katsir, Sayyid Qutbh dan Quraish Shihab, Ulu al-Albâb dengan segala karakteristiknya telah menginspirasi sosok ideal yang harus lahir sebagai produk dari sebuah proses pembelajaran. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2126</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n1.34-46</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 34-46</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 34-46</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2126/577</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2127</identifier>
				<datestamp>2024-12-26T16:31:00Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Tinjauan Kritis Orientalis Pada Teori Christoph Luxenberg Dalam Studi Al-Qur’an Pada Konsep Dakwah</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Tinjauan Kritis Orientalis Pada Teori Christoph Luxenberg Dalam Studi Al-Qur’an Pada Konsep Dakwah</dc:title>
	<dc:creator>Muhammad Haris Hakam</dc:creator>
	<dc:creator>Siti Nuri Nurhaidah</dc:creator>
	<dc:creator>Muhibudin</dc:creator>
	<dc:creator>Andi Marwan</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Orientalis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Teori Christoph Luxenberg</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Al-Qur’an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Dakwah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Orientalis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Teori Christoph Luxenberg</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Al-Qur’an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Dakwah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">This article discusses the controversial theory put forward by Christoph Luxenberg regarding the origins of the Qur'an. In his work, The Syro-Aramaic Reading of the Koran, Luxenberg argues that many parts of the Qur'an were actually written in the Aramaic dialect and not in classical Arabic. This theory states that many verses have been misinterpreted due to linguistic and cultural shifts. This article examines the linguistic and historical foundations of Luxenberg's theory, and assesses its impact on Islamic studies and acceptance among Muslim academics and scholars. Through critical analysis, this article aims to provide a deeper understanding of the implications of Luxenberg's approach to the interpretation of the Qur'an.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Artikel ini membahas teori kontroversial yang diajukan oleh Christoph Luxenberg mengenai asal-usul Al-Qur'an. Dalam karyanya, The Syro-Aramaic Reading of the Koran, Luxenberg berargumen bahwa banyak bagian dari Al-Qur'an sebenarnya ditulis dalam dialek Aram dan bukan dalam bahasa Arab klasik. Teori ini menyatakan bahwa banyak ayat telah disalahartikan karena pergeseran linguistik dan budaya. Artikel ini mengkaji dasar-dasar linguistik dan historis dari teori Luxenberg, serta menilai dampaknya terhadap studi Islam dan penerimaan di kalangan akademisi dan ulama Muslim. Melalui analisis kritis, artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang implikasi dari pendekatan Luxenberg terhadap penafsiran Al-Qur'an.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2127</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n1.47-61</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 47-61</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 47-61</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2127/578</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2129</identifier>
				<datestamp>2025-01-21T05:07:11Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kajian Living Hadis: Sedekah Sega Langgi Dalam Tradisi Rebo Wekasan Di Desa Jatibarang Kabupaten Brebes</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Kajian Living Hadis: Sedekah Sega Langgi Dalam Tradisi Rebo Wekasan Di Desa Jatibarang Kabupaten Brebes</dc:title>
	<dc:creator>Ahmad Fais</dc:creator>
	<dc:creator>Jamal Lutfi</dc:creator>
	<dc:creator>Ahmad Saefudin</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Living Hadis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Rebo Wekasan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Alm</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Living hadis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Rebo Wekasan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Sedekah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">This research aims to examine in more depth the implementation of living hadith in the rebo wekasan tradition in Jatibarang village, Brebes district. The method used is a qualitative method with data collection techniques in the form of observation, documentation and interviews with local religious leaders and elders to find out the procedures for implementing the rebo wekasan tradition. As a multicultural country, the term rebo wekasandi in Indonesia has its own meaning and religious practices for each region. These differences are caused by diverse social and cultural backgrounds. In its implementation, the rebo wekasan in Jatibarang village has its own characteristics, namely the Sega Langgi almsgiving on the morning of the last Wednesday of the month of Safar on the Hijri calendar. The meaning of Sega Langgi alms is apart from being a form of getting closer to Allah, it is also an effort to maintain good relations between Muslims and an effort to repel reinforcements, because people believe that on this Wednesday Allah will send as many as 32,000 disaster reinforcements. Before the Sega Langgi alms ritual is carried out, local clerics first urge their residents to perform the lidaf'il bala prayer together. This research also reveals the concept of living hadith regarding the virtue of almsgiving as a practice of rejecting evil and prolonging life. In this way, the traditions preserved by the community to this day apparently have a strong religious foundation so that they not only preserve local culture but also carry out practices in accordance with religious sharia as taught by the Prophet Muhammad.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam tentang implementasi living hadis dalam tradisi rebo wekasan di Desa Jatibarang Kabupaten Brebes. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi dan wawancara dengan pemuka agama dan sesepuh daerah setempat untuk mengetahui tata cara pelaksanaan tradisi rebo wekasan. Sebagai negara multikultural, istilah rebo wekasan di Indonesia memiliki pemaknaan dan praktek-praktek keagamaan tersendiri pada setiap daerah. Perbedaan ini disebabkan oleh latar sosial dan budaya yang beragam. Pelaksanaan atau ritual rebo wekasan di Desa Jatibarang memiliki ciri khas tersendiri yakni dengan sedekah sega langgi pada pagi hari rabu terakhir bulan safar penanggalan hijriyah. Makna dari sedekah sega langgi ini selain sebagai wujud mendekatkan diri kepada Allah, juga sebagai usaha dalam menjaga hubungan baik antar umat muslim dan ikhtiar penolak bala, karena masyarakat percaya pada hari rabu ini Allah mengirimkan sebanyak 32.000 bala bencana. Sebelum ritual sedekah sega langgi dilakukan, terlebih dahulu ulama setempat menghimbau warganya untuk bersama-sama menunaikan salat lidaf’il bala. Penelitian ini juga mengungkap mengenai konsep living hadis tentang keutamaan sedekah sebagai amalan menolak bala dan memanjangkan umur. Dengan demikian tradisi yang dilestarikan masyarakat hingga kini ternyata memiliki landasan agama yang kuat sehingga tidak hanya melestarikan budaya lokal tetapi juga menjalankan amalan sesuai syari’at agama sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah Saw.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2129</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n1.62-68</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 62-68</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 62-68</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2129/579</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2130</identifier>
				<datestamp>2026-06-08T10:12:45Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pendekatan Maqasidi dalam Interpretasi Ayat-Ayat Riba Pada Analisis Tafsir Ibn Ashur dan al-Maraghi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pendekatan Maqasidi dalam Interpretasi Ayat-Ayat Riba Pada Analisis Tafsir Ibn Ashur dan al-Maraghi</dc:title>
	<dc:creator>Muzayanah</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Usury</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Maqasid al-Shari’ah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">justice and the Islamic financial system</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Riba</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Maqasid al-syari’ah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">keadilan dan sistem keuangan Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">This research aims to analyze the interpretation of riba verses from a fiqh perspective using the maqasidi approach in the interpretations of Ibn Ashur and al-Maraghi. Usury as a controversial topic in Islamic teachings, especially in the context of modern economics, requires a deep understanding of fiqh and maqasid al-syari'ah (the goals of sharia). This research uses the library research method, which means reviewing existing literature, especially the tafsir of Al-Maraghi and Ibn Ashur. This research will identify how the two mufassir, Ibn Ashur and al-Maraghi, interpreted verses relating to usury using maqasid principles, such as justice, the benefit of the people, and protection of individual economic rights. Al-Maraghi emphasized that usury transactions, including those carried out in the conventional banking system that involve interest, are expressly forbidden in Islam. Al-Maraghi considers that usury causes injustice in economic transactions, creates an unfair burden on weaker parties, and is detrimental to overall social welfare. However, in cases of emergency or compulsion, when a Muslim has no other choice but to engage in riba transactions to survive, then such transactions may be temporarily permissible.Ibn Ashur emphasized that financial transactions must be carried out with the principles of justice and the welfare of the people, as exemplified in the Islamic economic system which is free from usury and detrimental practices. This paves the way for efforts to establish financial institutions in accordance with Islamic law, which not only pay attention to material benefits, but also provide a positive impact on society as a whole. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interpretasi ayat-ayat riba dalam perspektif fikih dengan pendekatan maqasidi dalam tafsir Ibn Ashur dan al-Maraghi. Riba sebagai topik kontroversial dalam ajaran Islam, terutama dalam konteks ekonomi modern, membutuhkan pemahaman yang mendalam dari sisi fikih dan maqasid al-syari’ah (tujuan syariat). Penelitian ini menggunakan metode library research, yang berarti mengkaji literatur yang ada, khususnya tafsir Al-Maraghi dan Ibn Ashur. Penelitian ini,  akan mengidentifikasi bagaimana kedua mufassir, Ibn Ashur dan al-Maraghi, menginterpretasikan ayat-ayat yang berkaitan dengan riba dengan menggunakan prinsip-prinsip maqasid, seperti keadilan, kemaslahatan umat, dan perlindungan terhadap hak-hak ekonomi individu. Al-Maraghi menegaskan bahwa transaksi riba, termasuk yang dilakukan dalam sistem perbankan konvensional yang melibatkan bunga, secara tegas diharamkan dalam Islam. Al-Maraghi menganggap bahwa riba menyebabkan ketidakadilan dalam transaksi ekonomi, menciptakan beban yang tidak adil bagi pihak yang lebih lemah, serta merugikan kesejahteraan sosial secara keseluruhan. Namun, dalam keadaan darurat atau keterpaksaan, ketika seorang Muslim tidak memiliki pilihan lain selain terlibat dalam transaksi riba untuk bertahan hidup, maka transaksi tersebut dapat dibolehkan sementara waktu. Ibn Ashur menekankan bahwa transaksi keuangan harus dilaksanakan dengan prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan umat, sebagaimana dicontohkan dalam sistem ekonomi Islam yang bebas dari riba dan praktik-praktik yang merugikan. Hal ini membuka jalan bagi upaya untuk mendirikan lembaga-lembaga keuangan yang sesuai dengan syariat Islam, yang tidak hanya memperhatikan keuntungan material, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat secara keseluruhan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2130</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n2.34-44</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 2 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 34-44</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 2 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 34-44</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2130/580</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2161</identifier>
				<datestamp>2026-06-08T10:12:32Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Model Konsep, Desain, Implementasi dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Model Konsep, Desain, Implementasi dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam </dc:title>
	<dc:creator>Nanda Inka Fitri</dc:creator>
	<dc:creator>Reni Susilaati</dc:creator>
	<dc:creator>Eti Hadiati</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Curriculum</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kurikulum</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Pendidikan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Education is always dynamic and continues to develop according to developments and progress over time. As is the case when entering an era of progress both in science and technology which is called the era of globalization which requires humans to adapt to the needs of the times. This happens in all lines of life, namely in the social, economic, political, cultural fields and also occurs in the educational sector. The changes that occur in all aspects of education are aimed at achieving the goals of education, Islam also supports changes in a positive direction and for the better. All aspects of education have also changed in all aspects, including changes to the curriculum as the foundation and framework for implementing the educational process. Curriculum changes in Indonesia have occurred since 1945. As prospective educators, especially educational practitioners, it is very important to study the Concept Model for Design of Implementation and Development of the Islamic Religious Education Curriculum. By using descriptive analysis methods through literature studies or library research, the author tries to examine every aspect of the Islamic Religious Education Curriculum Implementation and Development Design Concept Model in order to produce insight and knowledge and as a view to develop a guideline and reference in carrying out the process education.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pendidikan selalu dinamis dan terus berkembang menyesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Seperti halnya ketika memasuki zaman kemajuan baik dalam ilmu pengetahuan dan juga teknologi yang disebut zaman globalisasi yang menuntut manusia untuk menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Hal ini terjadi dalam semua lini kehidupan yakni pada bidang sosial, ekonomi, politik, budaya dan terjadi juga pada bidang pendidikan. Perubahan yang terjadi dalam semua aspek pendidikan ditujukan agar tercapai  tujuan dari pendidikan, islam juga mendukung adanya perubahan kearah positif dan menjadi lebih baik. Segala aspek dalam pendidikan juga berubah dalam semua aspek, termasuk dalam perubahan kurikulum sebagai pondasi dan kerangka dalam pelaksanaan proses pendidikan. Perubahan kurikulum di Indonesia telah terjadi sejak tahun 1945. Sebagai calon pendidik khususnya praktisi pendidikan sangat penting untuk mengkaji Model Konsep Desain Implementasi dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. Dengan menggunakan metode deskriptif analisis melalui studi literatur atau studi kepustakaan (library research), penulis berusaha mengkaji setiap aspek dari Model Konsep Desain Implementasi dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam agar dapat menghasilkan wawasan dan pengetahuan dan sebagai pandangan utuk mengembangkan sebuah pedoman dan rujukan dalam melaksanakan peroses pendidikan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2161</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n2.67-75</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 2 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 67-75</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 2 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 67-75</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2161/589</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2162</identifier>
				<datestamp>2026-06-08T10:12:10Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan  dalam Pendidikan Agama Islam </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan  dalam Pendidikan Agama Islam </dc:title>
	<dc:creator>Reni Susilawati</dc:creator>
	<dc:creator>Zjulpi Andriansah</dc:creator>
	<dc:creator>Shalicha Nafilata Erhassa</dc:creator>
	<dc:creator>Nanda Inka Fitri</dc:creator>
	<dc:creator>Wan Jamaluddin</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Environmental education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Sustainable Development</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">pendidikan Lingkungan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">, Pembangunan Berkelanjutan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Problems related to the environment are becoming global issues that are increasingly urgent to be addressed. Various problems related to climate change, environmental degradation and the reduction of natural resources have brought serious threats to human survival and the ecosystems that support them. Uncontrolled human activities such as overexploitation of resources, deforestation, and air, land and water pollution have had widespread and detrimental impacts. This situation demands a change in the development paradigm that is not only oriented towards economic growth, but also towards a balance between human needs and environmental sustainability. In an effort to realize sustainable development, environmental education has a strategic role that cannot be ignored. Environmental education provides society, especially the younger generation, with the knowledge, attitudes and skills needed to live in harmony with the environment. This educational process not only aims to increase understanding of the importance of protecting the environment, but also builds awareness of the long-term impacts of every action taken. In this way, environmental education can create future generations who are more responsible in maintaining the balance of the ecosystem. Therefore, it is very important to study issues related to Environmental Education and Sustainable Development in Islamic Religious Education. By using descriptive analysis methods through literature studies or library research, the author tries to examine every aspect of Environmental Education and Sustainable Development in Islamic Religious Education so that it can produce insight, knowledge, and as a view to develop a guideline, reference in carrying out the educational process.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">permasalahan terkait lingkungan hidup menjadi isu global yang semakin mendesak untuk diatasi berbagai persoalan terkait perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan berkurangnya sumber daya alam telah membawa ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup manusia serta ekosistem yang menopangnya. Aktivitas manusia yang tidak terkendali seperti eksploitasi sumber daya secara berlebihan, deforestasi, serta pencemaran udara, tanah, dan air telah memberikan dampak yang luas dan merugikan. Situasi ini menuntut adanya perubahan paradigma pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga pada keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan. Dalam upaya mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, pendidikan lingkungan memiliki peran strategis yang tidak dapat diabaikan. Pendidikan lingkungan memberikan masyarakat, terutama generasi muda, bekal berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup selaras dengan lingkungan. Proses pendidikan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran akan dampak jangka panjang dari setiap tindakan yang diambil. Dengan cara ini, pendidikan lingkungan dapat menciptakan generasi masa depan yang lebih bertanggung jawab dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu sangat penting mengkaji persoalan terkait Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan Dalam Pendidikan Agama Islam Dengan menggunakan metode deskriptif analisis melalui studi literatur atau studi kepustakaan (library research), penulis berusaha mengkaji setiap aspek dari Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan Dalam Pendidikan Agama Islam agar dapat menghasilkan wawasan, pengetahuan, dan sebagai pandangan utuk mengembangkan sebuah pedoman, rujukan dalam melaksanakan peroses pendidikan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2162</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n2.76-91</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 2 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 76-91</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 2 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 76-91</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2162/590</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ejurnal.iiq.ac.id:article/2163</identifier>
				<datestamp>2025-03-06T04:01:55Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2164</identifier>
				<datestamp>2026-06-08T10:11:51Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kontekstualisasi Pesan Moral Kisah Aṣḥāb Al-Jannah Surat Al-Qalam Ayat 17-33</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Kontekstualisasi Pesan Moral Kisah Aṣḥāb Al-Jannah Surat Al-Qalam Ayat 17-33</dc:title>
	<dc:creator>Hesty Kusuma Waty</dc:creator>
	<dc:creator>Masruchin</dc:creator>
	<dc:creator>Abuzar Al-Ghifari</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Moral Messages</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Story of Aṣḥāb Al-Jannah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Pesan Moral</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kisah Aṣḥāb Al-Jannah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">This study aims to identify the moral massage found in the narrative of Aṣḥāb Al-Jannah (the people of the garden) contained in Surah Al-Qalam (68) verses 17-33 as well as forms of contextualization in the current context. This study belongs to the library research category and employs a descriptive-analytical method. This study indicates that the first describes the socio-historical of Surah Al-Qalam verses 17–33, which is the Qur'anic reactions to the circumstances of Arab society in the past. The narrative tells the story of Abu Jahal and the people of Makkah who denied the mercies of Allah. The second movement involves contextualizing Surah Al-Qalam verses 17-33, resulting in aspects of moral ideal values. The ideal values are, first, the value of monotheism (always remembering Allah in all matters). The second ideal value is spiritual value (implementing zakat in life). The third ideal value is the social value (guiding on virtue). Third, social value (guiding on virtue), character value of human responsibility, character building (endeavor, optimism, prayer, and tawakal or reliance on God), avoiding selfishness and materialism, imitating the good nature of parents, egalitarianism, and self-control (repentance and devotion to Allah).</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pesan moral yang terdapat dalam kisah Aṣḥāb Al-Jannah (pemilik kebun) yang terdapat dalam surat Al-Qalam/68:17-33 serta bentuk-bentuk kontekstualisasinya pada konteks kekinian. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kepustakaan dan menggunakan metode deskriptif-analitis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pertama memaparkan sosio-historis surat Al-Qalam ayat 17-33 yang merupakan respon Al-Qur’an terhadap kondisi masyarakat Arab pada masa dahulu yaitu sebagai perumpamaan mengenai kisah Abu Jahal dan kaum penduduk Makkah dalam menghadapi kaum mukmin yaitu mengkufuri nikmat yang telah Allah berikan. Kemudian selanjutnya yaitu, kontekstualisasi surat Al-Qalam ayat 17-33 yang menghasilkan aspek nilai  moral yaitu pertama, terdapat nilai ketauhidan (senantiasa mengingat Allah dalam setiap hal), kedua nilai spiritual (mengimplementasikan zakat dalam kehidupan), ketiga nilai sosial (menasehati tentang kebaikan, nilai karakter tanggung jawab sebagai manusia, pembentukkan karakter yang meliputi ikhtiar, optimis, berdoa dan tawakal, menghindari sikap egoisme dan matrealisme, meneladani sifat baik orang tua), nilai egalitarianisme dan nilai self control (bertaubat dan bertaqwa kepada Allah).</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2164</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n2.43-66</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 2 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 43-66</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 2 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 43-66</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2164/592</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2167</identifier>
				<datestamp>2025-01-31T06:08:56Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Maqāman Maḥmūdan Perspective Ibn ʻAjībah in Tafsīr  al-Baḥr al-madīd fī tafsīr al-Qurʼān al-Majīd</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Maqāman Maḥmūdan Perspective Ibn ʻAjībah in Tafsīr  al-Baḥr al-madīd fī tafsīr al-Qurʼān al-Majīd</dc:title>
	<dc:creator>Muhammad Dhama</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Maqāman maḥmūdan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Ibn ʻAjībah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tafsir al-Baḥr al-madīd fī tafsīr al-Qurʼān al-Majīd</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Maqāman maḥmūdan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Ibn ʻAjībah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Tafsir al-Baḥr al-madīd fī tafsīr al-Qurʼān al-Majīd</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">This study aims to analyze the concept of Maqāman maḥmūdan from Ibn ʻAjībah's perspective as found in the tafsir al-Baḥr al-madīd fī tafsīr al-Qurʼān al-Majīd. Maqāman maḥmūdan is an important concept in Islamic spiritual understanding, referring to the blessed status or place in the journey of human life. Ibn ʻAjībah, a prominent scholar from 19th-century Morocco, developed a profound understanding of this concept in his works. The research methodology involves textual analysis (Semiotic) of Ibn ʻAjībah's tafsir al-Baḥr al-madīd fī tafsīr al-Qurʼān al-Majīd. Primary data is obtained through direct examination of the tafsir texts relevant to the concept of Maqāman maḥmūdan, while secondary data is gathered through related literature studies. The findings reveal that the concept of Maqāman maḥmūdan has significant theological and practical implications in understanding the Quran and its relevance in the context of modern human life. The conclusion of this study provides deep insights into the importance of understanding spiritual concepts such as Maqāman maḥmūdan in interpreting the messages of the Quran and its guidance for human life</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep maqāman maḥmūdan dalam perspektif Ibn ʻAjībah yang terdapat dalam tafsir al-Baḥr al-Madīd fī Tafsīr al-Qurʼān al-Majīd. Maqāman maḥmūdan merupakan konsep penting dalam pemahaman spiritual Islam, yang merujuk pada status atau tempat yang diberkahi dalam perjalanan hidup manusia. Ibn ʻAjībah, seorang cendekiawan terkemuka dari Maroko abad ke-19, mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang konsep ini dalam karya-karyanya. Metodologi penelitian ini menggunakan analisis tekstual (semiotik) terhadap tafsir Ibn ʻAjībah, al-Baḥr al-Madīd fī Tafsīr al-Qurʼān al-Majīd. Data primer diperoleh melalui penelusuran langsung terhadap teks-teks tafsir yang relevan dengan konsep maqāman maḥmūdan, sementara data sekunder dikumpulkan melalui studi literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep maqāman maḥmūdan memiliki implikasi teologis dan praktis yang signifikan dalam memahami al-Qur'ān dan relevansinya dalam konteks kehidupan manusia modern. Kesimpulan dari penelitian ini memberikan wawasan yang mendalam tentang pentingnya memahami konsep spiritual seperti Maqāman maḥmūdan dalam menafsirkan pesan-pesan Al-Quran dan bimbingannya bagi kehidupan manusia.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2167</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n1.69-80</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 69-80</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 69-80</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2167/593</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2168</identifier>
				<datestamp>2025-01-31T06:22:51Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Rekonstruksi Makna Faẓfar Bi Dhāt Al-Dīn Melalui Teori Mubādalah di Dusun Dengok Paciran Lamongan</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Rekonstruksi Makna Faẓfar Bi Dhāt Al-Dīn Melalui Teori Mubādalah di Dusun Dengok Paciran Lamongan</dc:title>
	<dc:creator>Fathoniz Zakka</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Mubādalah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Sunan al-Dārimī</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Sunan al-Dārimī</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Mubādalah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Everyone has their own criteria when it comes to choose a life partner. In the book of Sunan Al-Darimi index number 2216 the Prophet mentions four good criteria used as a reference, namely religion, appearance, wealth, and lineage. Problems arise when the hadith is only understood textually, when men have the authority to choose a partner while women do not. So, it will be interesting if the intent of the hadith is examined using the Mubādalah theory on this case. This study uses a qualitative method by using the book of Sunan al-Dārimī as the main source. The research becomes even more interesting because it was complemented by case studies of a number of people from the hamlet of Dengok, Lamongan who still hold the tradition of women applying to men first. The results of this study indicate that the hadith in the book of Sunan al-Dārimī index number 2216 is valid and can be used as evidence. A number of people in the hamlet of Dengok Lamongan practice the tradition of women proposing to men for various reasons. One of them is because men were believed to be the backbone of the family to earn a living. If this tradition was related to the hadith in the book of Sunan al-Dārimī index number 2216 and its meaning was reconstructed using the Mubādalah theory, it can be justified. One of the strong arguments is because the Prophet SAW. was once proposed by a woman named Siti Khadijah.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Setiap orang memiliki kriteria masing-masing dalam hal memilih pasangan hidup. Di dalam kitab Sunan Al-Darimi nomor indeks 2216 Nabi menyebutkan empat kriteria yang baik untuk dijadikan acuan, yakni agama, paras, harta, dan garis keturunan. Permasalahan muncul ketika hadis tersebut hanya dipahami secara tekstual, yakni ketika laki-laki mempunyai otoritas untuk memilih pasangan sementara perempuan tidak. Maka dalam hal ini akan menjadi menarik jika maksud hadis tersebut diteliti menggunakan teori Mubadalah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menjadikan kitab Sunan al-Dārimī sebagai sumber utama. Penelitian menjadi semakin menarik lantaran dilengkapi dengan studi kasus sejumlah masyarakat dusun Dengok, Lamongan yang masih memegang tradisi wanita melamar pria terlebih dahulu. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hadis dalam kitab Sunan al-Dārimī nomor indeks 2216 tersebut berstatus sahih dan bisa dijadikan hujjah. Sejumlah masyarakat di dusun Dengok Lamongan mempraktikkan tradisi wanita melamar laki-laki dengan berbagai alasan. Salah satunya karena laki-laki dipercaya sebagai tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah. Apabila tradisi ini dikaitkan dengan hadis dalam kitab Sunan al-Dārimī nomor indeks 2216 dan direkonstruksi maknanya menggunakan teori Mubādalah maka bisa dibenarkan. Salah satu argumentasi yang kuat ialah karena Nabi SAW. sendiri pernah dilamar oleh seorang wanita bernama Siti Khadijah</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2168</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n1.81-96</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 81-96</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 81-96</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2168/594</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2176</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T03:03:12Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM </dc:title>
	<dc:creator>Huzaemah Tahido Yanggo </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kepemimpinan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Perempuan dan Hukum Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kepemimpinan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">, Perempuan dan Hukum Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Di dalam Islam ada beberapa isu yang sering diangkat ke permukaan terutama yang berkaitan dengan isu relasi jender. Isu tersebut, antara lain konsep kepemimpinan perempuan, aurat, busana muslimah, persaksian, poligami, hak-hak reproduksi perempuan, peran publik perempuan, dan konsep superioritas laki-laki dan sebagainya. Dalam artikel ini menyuguhkan salah satunya yakni kepemimpinan perempuan dalam perspektif hukum Islam. Jika membaca sepintas beberapa ayat dan hadis tentang hal tersebut, terkesan ada kecenderungan seolah Islam memojokkan perempuan dan mengistimewakan laki-laki. Akan tetapi, jika menyimak secara mendalam dengan menggunakan metode semantik, semiotika dan hermeneutik secara kritis, maka justru sebaliknya, Islamlah yang pertama kali menggagas konsep keadilan jender dalam sejarah, sepanjang kehidupan umat manusia.  
Melalui artikel ini, akan menjelaskan bagaimana nashnash yang telah diteliti tentang perempuan dan juga dapat meluruskan penafsiran klasik yang terbukti tidak objektif, karena ternyata terkontaminasi oleh kondisi sosial budaya yang didominasi oleh peran laki-laki, terutama sekali terkait dalam konteks kepemimpinan perempuan. 
 
</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Di dalam Islam ada beberapa isu yang sering diangkat ke permukaan terutama yang berkaitan dengan isu relasi jender. Isu tersebut, antara lain konsep kepemimpinan perempuan, aurat, busana muslimah, persaksian, poligami, hak-hak reproduksi perempuan, peran publik perempuan, dan konsep superioritas laki-laki dan sebagainya. Dalam artikel ini menyuguhkan salah satunya yakni kepemimpinan perempuan dalam perspektif hukum Islam. Jika membaca sepintas beberapa ayat dan hadis tentang hal tersebut, terkesan ada kecenderungan seolah Islam memojokkan perempuan dan mengistimewakan laki-laki. Akan tetapi, jika menyimak secara mendalam dengan menggunakan metode semantik, semiotika dan hermeneutik secara kritis, maka justru sebaliknya, Islamlah yang pertama kali menggagas konsep keadilan jender dalam sejarah, sepanjang kehidupan umat manusia.  
Melalui artikel ini, akan menjelaskan bagaimana nashnash yang telah diteliti tentang perempuan dan juga dapat meluruskan penafsiran klasik yang terbukti tidak objektif, karena ternyata terkontaminasi oleh kondisi sosial budaya yang didominasi oleh peran laki-laki, terutama sekali terkait dalam konteks kepemimpinan perempuan. 
 
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2176</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n1.1-18</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 1-18</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 1-18</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2176/595</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2178</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T03:17:20Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">PEMBAHARUAN  HUKUM ISLAM DAN LAPANGAN IJTIHAD </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PEMBAHARUAN  HUKUM ISLAM DAN LAPANGAN IJTIHAD</dc:title>
	<dc:creator>Ahmad Munif Suratmaputra </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pembaharuan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hukum Islam dan Ijtihad</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Pembaharuan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Hukum Islam dan Ijtihad</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Hukum Islam telah diprogram oleh Allah Swt untuk selalu  tampil di suatu masa, di mana kemajuan dalam kehidupan manusia sampai pada tataran puncak. Pada taraf itulah tentunya akan banyak masalah baru yang muncul yang akan dihadapi oleh umat manusia dan bisa terjadi di mana hukumnya tidak atau belum diketemukan baik di dalam al-Qur‟an mauun di dalam asSunnah (hadis Nabi), atau bahkan bisa saja terjadi dimana hukumnya belum pernah dibahas oleh para fuqaha‟ yang terdahulu. Di dalam kajian filsafat hukum Islam dimana ada prinsip bahwa didalam kehidupan umat Islam tidak diperbolehkannya terjadi suatu kekosongan hukum. Sangat tidak diperkenankan dalam kehidupan ini ada suatu masalah baru yang  muncul, namun kemudian tidak diketahui hukumnya. Untuk itulah, Islam membuka pintu ijtihad seluas-luasnya. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Hukum Islam telah diprogram oleh Allah Swt untuk selalu  tampil di suatu masa, di mana kemajuan dalam kehidupan manusia sampai pada tataran puncak. Pada taraf itulah tentunya akan banyak masalah baru yang muncul yang akan dihadapi oleh umat manusia dan bisa terjadi di mana hukumnya tidak atau belum diketemukan baik di dalam al-Qur‟an mauun di dalam asSunnah (hadis Nabi), atau bahkan bisa saja terjadi dimana hukumnya belum pernah dibahas oleh para fuqaha‟ yang terdahulu. Di dalam kajian filsafat hukum Islam dimana ada prinsip bahwa didalam kehidupan umat Islam tidak diperbolehkannya terjadi suatu kekosongan hukum. Sangat tidak diperkenankan dalam kehidupan ini ada suatu masalah baru yang  muncul, namun kemudian tidak diketahui hukumnya. Untuk itulah, Islam membuka pintu ijtihad seluas-luasnya. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2178</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n1.19-48</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 19-48</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 19-48</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2178/596</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2179</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T03:25:13Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">TAHRIF DALAM AL-QUR’AN</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">TAHRIF DALAM AL-QUR’AN</dc:title>
	<dc:creator>Hamdani Anwar</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tahrif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Al-Qur’an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Lafdzy dan Ma`nawy</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Tahrif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Al-Qur’an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Lafdzy dan Ma`nawy</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Persoalan tahrif (perubahan) dalam al-Qur’an sesungguhnya telah muncul di percaturan intelektual kaum Muslimin sejak berabad-abad yang lalu. Saat ini, walaupun persoalan tersebut sudah tidak banyak diperbincangkan lagi, namun tetap saja masih ada sebagian umat Islam yang mengangkatnya sebagai wacana yang layak diperhatikan. Yang sedemikian ini karena posisi al-Qur’an sebagai Kitab Suci umat Islam yang berfungsi sebagai petunjuk berlaku sepanjang masa, dan memang mesti bersifat abadi yang tidak berubah. Oleh sebab itu, isu tentang adanya perubahan di dalamnya tentu akan menimbulkan respon yang cukup kritis. 
Tulisan ini difokuskan untuk membahas persoalan yang berkaitan dengan tahrif dalam al-Qur’an. Masalah-masalah yang dikaji adalah yang hal-hal yang  berhubungan dengan pengertian, analisis tentang macam-macam dan kemungkinan terjadinya tahrif (perubahan). Kajian terhadap setiap persoalan dilakukan secara kritis dan anlitis, sehingga pendalaman dan pemahaman terhadap masalah yang sedang dipaparkan dapat dilakukan dengan cermat dan baik. 
</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Persoalan tahrif (perubahan) dalam al-Qur’an sesungguhnya telah muncul di percaturan intelektual kaum Muslimin sejak berabad-abad yang lalu. Saat ini, walaupun persoalan tersebut sudah tidak banyak diperbincangkan lagi, namun tetap saja masih ada sebagian umat Islam yang mengangkatnya sebagai wacana yang layak diperhatikan. Yang sedemikian ini karena posisi al-Qur’an sebagai Kitab Suci umat Islam yang berfungsi sebagai petunjuk berlaku sepanjang masa, dan memang mesti bersifat abadi yang tidak berubah. Oleh sebab itu, isu tentang adanya perubahan di dalamnya tentu akan menimbulkan respon yang cukup kritis. 
Tulisan ini difokuskan untuk membahas persoalan yang berkaitan dengan tahrif dalam al-Qur’an. Masalah-masalah yang dikaji adalah yang hal-hal yang  berhubungan dengan pengertian, analisis tentang macam-macam dan kemungkinan terjadinya tahrif (perubahan). Kajian terhadap setiap persoalan dilakukan secara kritis dan anlitis, sehingga pendalaman dan pemahaman terhadap masalah yang sedang dipaparkan dapat dilakukan dengan cermat dan baik. 
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2179</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n1.49-74</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 49-74</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 49-74</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2179/597</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2180</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T03:42:23Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">REFORMULASI FIKIH MELALUI MAQASID SHARI‘AH</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">REFORMULASI FIKIH MELALUI MAQASID SHARI‘AH</dc:title>
	<dc:creator>Muhammad Yusuf</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Reformulasi Fikih</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Maqasid al-Shari‘ah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Dinamika hukum Islam (fiqh) disamping dilandasi oleh  epistemologinya yang kokoh juga perlu memformulasikan dan merekonstruksi basis teorinya. Basis teori hukum Islam sebagaimana dibahas oleh para usuliyyin terdahulu adalah keharusan mengetahui tujuan ditetapkannya hukum Islam (maqasid shari‘ah) yang menjadi salah satu syarat penting bagi mujtahid dalam melakukan ijtihadnya.

Relevansi Maslahat di masa kini dan mendatang, bertumpu pada Syariat (dengan kajian usul fiqh-nya sebagaisebuah metodologi pemecahan masalah telah banyak diakui para pemerhati dan praktisi hukum Islam. Banyak masalah kontemporer yang dapat ditelaah dengan menggunakan syariat, dan berbagai alternatif kebijakan dapat dikembangkan sehingga menjadi sebuah bagian integral dari hukum Islam. 

Secara sosiologis, dinamika masyarakat dapat mempengaruhi pola pikir dan tata cara yang ada pada masyarakat itu. Semakin maju cara berfikir masyarakat, akan semakin terbuka untuk menerima kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemecahan atas masalah sosial-keagamaan pun sangat diperlukan, sehingga syariat Islam dapat dibuktikan tidak bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Dinamika hukum Islam (fiqh) disamping dilandasi oleh  epistemologinya yang kokoh juga perlu memformulasikan dan merekonstruksi basis teorinya. Basis teori hukum Islam sebagaimana dibahas oleh para usuliyyin terdahulu adalah keharusan mengetahui tujuan ditetapkannya hukum Islam (maqasid shari‘ah) yang menjadi salah satu syarat penting bagi mujtahid dalam melakukan ijtihadnya.

Relevansi Maslahat di masa kini dan mendatang, bertumpu pada Syariat (dengan kajian usul fiqh-nya sebagaisebuah metodologi pemecahan masalah telah banyak diakui para pemerhati dan praktisi hukum Islam. Banyak masalah kontemporer yang dapat ditelaah dengan menggunakan syariat, dan berbagai alternatif kebijakan dapat dikembangkan sehingga menjadi sebuah bagian integral dari hukum Islam. 

Secara sosiologis, dinamika masyarakat dapat mempengaruhi pola pikir dan tata cara yang ada pada masyarakat itu. Semakin maju cara berfikir masyarakat, akan semakin terbuka untuk menerima kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemecahan atas masalah sosial-keagamaan pun sangat diperlukan, sehingga syariat Islam dapat dibuktikan tidak bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2180</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n1.75-112</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 75-112</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 75-112</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n1</dc:source>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2181</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T03:48:27Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">ETIKA BISNIS PELENGKAP  CORPORATE GOVERNANCE SYARIAH </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">ETIKA BISNIS PELENGKAP  CORPORATE GOVERNANCE SYARIAH </dc:title>
	<dc:creator>Nasimul Falah</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Etika Bisnis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Corporate Governance dan Syariah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Etika Bisins</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Corporate Governance dan Syariah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) tahun 2010, mengintrodusir etika bisnis dengan menafsirkan prinsipprinsip etika pada kegiatan bisnis tertentu. Dengan standar umum yang kurang jelas ini, telah menimbulkan wacana di kalangan akademisi dan praktisi. Peneliti Roszaini Haniffa and Mohammad Hudaib menemukan ketidaksesuaian antara komitmen dan praktik bisnis. Muhammad Djakfar melihat etika dan moral secara harfiah adalah sistem nilai bagaimana manusia harus hidup di tengah masyarakat, dan juga etika jauh lebih luas dari moral, etika disini diartikan sebagai filsafat moral.  
Berbeda dengan Sofyan S. Harahap yang memahamkan etika sebagai cabang filsafat tapi juga sebagai cabang ilmu. Pemahaman terhadap makna etika bisnis tersebut berujung timbulnya berbagai teori etika bisnis yang banyak dikemukakan para akademisi. Penulis menemukan bahwa ajaran Islam telah mempunyai etika bisnis syariah yang kokoh dimulai dari teladan yang diperaktikan  oleh Nabi Muhammad Saw, yang bersumber kepada Wahyu yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasululullah Saw,  sebagai suatu pandangan hidup (worldview) Islami sehingga bersifat lengkap (shamil) dan sempurna (kamil). Etika bisnis dalam Islam berlaku universal tidak terkondisi dengan suatu kegiatan bisnis.  
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2181</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n1.113-126</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 113-126</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 113-126</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2181/598</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2182</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T03:57:20Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">OBJEKTIVITAS DAN VALIDITAS ORIENTALISME  SEBAGAI PELETAK SUMBER KAJIAN ISLAM DI BARAT :   (Studi Hadis Menurut Fazlur Rahman) </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">OBJEKTIVITAS DAN VALIDITAS ORIENTALISME  SEBAGAI PELETAK SUMBER KAJIAN ISLAM DI BARAT :   (Studi Hadis Menurut Fazlur Rahman) </dc:title>
	<dc:creator>Sadari</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hadist</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Objektivitas-Validitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hukum Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Hadist</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Objektivitas-Validitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Hukum Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Studi Fazlur Rahman terhadap hadis memiliki arti yang sangat penting terhadap pembaharuan pemikiran Islam, khususnya sumbangannya dalam bidang metode dan pendekatan. Pendekatan historis yang ia tawarkan adalah kontribusi positif terhadap studi hadis yang selama ini disibukkan oleh studi sanad, yang menutrut ia, walau memberi informasi biografis yang kaya, tetapi tidak dapat dijadikan argumentasi positif yang final. Umat Islam dewasa ini, menurut Rahman, membutuhkan upaya yang metodologis untuk mencairkan kembali hadis-hadis yang ada ke dalam bentuk sunnah yang hidup (living sunnah) melalui studi historis terhadapnya. Fazlur Rahman telah menelaah karya-karya intelektual sebelumnya yang terkait dengan studi hadis, antara lain Ignaz Goldziher, Margoliouth, H. Lammens, dan Joseph Schacht. Ruang lingkup studi Rahman adalah hadis yang dimulai kajiannya dari konsep-konsep sunnah pada awal sejarah Islam sampai formalisasi hadis, serta menawarkan sebuah pendekatan historis dalam studi tersebut. Maka kata kuncinya adalah sunnah yang hidup (living sunnah), idea moral (ratio legis), dan legal spesifik.  
Studi hadis Fazlur Rahman memberikan beberapa kontribusi yaitu pengetahuan baru tentang metode kritik terhadap hadis, memberi jalan alternatif atas kebekuan metodologis pemikiran Islam, khususnya pemikiran hukum Islam yang selama ini mensandarkan diri pada bangunan metodologis ulama madzab yang beraroma formalistik, skripturalistik dan atomistik, dan memberi sumbangan signifikan untuk merekonstruksi metode-metode istinbath sehingga lebih feasible terhadap tantangan jaman. Fazlur Rahman mengawali penulisannya dengan memaparkan secara singkat kegelisahan intelektualnya tentang kondisi real umat Islam yang terbelenggu dengan tertutupnya pintu ijtihad. Selanjutnya Rahman menguraikan evolusi historis hadis dari perkembangan awal hadis di masa Nabi. Pada akhirnya Rahman menawarkan metodologi dalam studi hadis untuk mengembalikan kembali hadis menjadi sunnah yang hidup (living sunnah) melalui pendekatan historis yang dipadu dengan pendekatan sosiologis sehingga hasilnya hadis tetap menjadi objektif untuk dijadikan sumber dalam kajian Islam baik dikalangan Islam itu sendiri maupun di Barat. 
</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Studi Fazlur Rahman terhadap hadis memiliki arti yang sangat penting terhadap pembaharuan pemikiran Islam, khususnya sumbangannya dalam bidang metode dan pendekatan. Pendekatan historis yang ia tawarkan adalah kontribusi positif terhadap studi hadis yang selama ini disibukkan oleh studi sanad, yang menutrut ia, walau memberi informasi biografis yang kaya, tetapi tidak dapat dijadikan argumentasi positif yang final. Umat Islam dewasa ini, menurut Rahman, membutuhkan upaya yang metodologis untuk mencairkan kembali hadis-hadis yang ada ke dalam bentuk sunnah yang hidup (living sunnah) melalui studi historis terhadapnya. Fazlur Rahman telah menelaah karya-karya intelektual sebelumnya yang terkait dengan studi hadis, antara lain Ignaz Goldziher, Margoliouth, H. Lammens, dan Joseph Schacht. Ruang lingkup studi Rahman adalah hadis yang dimulai kajiannya dari konsep-konsep sunnah pada awal sejarah Islam sampai formalisasi hadis, serta menawarkan sebuah pendekatan historis dalam studi tersebut. Maka kata kuncinya adalah sunnah yang hidup (living sunnah), idea moral (ratio legis), dan legal spesifik.  
Studi hadis Fazlur Rahman memberikan beberapa kontribusi yaitu pengetahuan baru tentang metode kritik terhadap hadis, memberi jalan alternatif atas kebekuan metodologis pemikiran Islam, khususnya pemikiran hukum Islam yang selama ini mensandarkan diri pada bangunan metodologis ulama madzab yang beraroma formalistik, skripturalistik dan atomistik, dan memberi sumbangan signifikan untuk merekonstruksi metode-metode istinbath sehingga lebih feasible terhadap tantangan jaman. Fazlur Rahman mengawali penulisannya dengan memaparkan secara singkat kegelisahan intelektualnya tentang kondisi real umat Islam yang terbelenggu dengan tertutupnya pintu ijtihad. Selanjutnya Rahman menguraikan evolusi historis hadis dari perkembangan awal hadis di masa Nabi. Pada akhirnya Rahman menawarkan metodologi dalam studi hadis untuk mengembalikan kembali hadis menjadi sunnah yang hidup (living sunnah) melalui pendekatan historis yang dipadu dengan pendekatan sosiologis sehingga hasilnya hadis tetap menjadi objektif untuk dijadikan sumber dalam kajian Islam baik dikalangan Islam itu sendiri maupun di Barat. 
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2182</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n1.125-146</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 125-146</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 125-146</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2182/599</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2183</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T04:14:13Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">KONSEP JIHAD ‘ABDULLAH&lt; B. AL-MUBA</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">KONSEP JIHAD ‘ABDULLAH&lt; B. AL-MUBA</dc:title>
	<dc:creator>Ismail Yahya</dc:creator>
	<dc:creator>Muh. Nashiruddin</dc:creator>
	<dc:creator>Abdul Aziz  </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Jihad</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">ayat al-qita&gt;l</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">ayat as-saif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">jihad global</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Jihad</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">ayat al-qita&gt;l</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">ayat as-saif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">jihad global</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Abdulla&gt;h b. Al-Muba&gt;rak (118-181/736-797) merupakan generasi tabi’ tabi’in, salah satu generasi terbaik dalam Islam dan dianggap oleh penulis biografi Islam klasik sebagai penulis pertama tentang jihad, yang penulisannya berbeda dengan penulis sebelumnya. Karyanya berjudul Kita&gt;b al-Jiha&gt;d, Di&gt;wa&gt;n 
ibnu al-Muba&gt;rak (mengandung tema jihad) dan sebuah kitab Hadis, Musnad ibnu al-Muba&gt;rak. Artikel ini merupakan hasil dari penelitian kepustakaan yang menggunakan tiga karya Ibnu al-Muba&gt;rak baik sumber primer maupun karya lain yang bertemakan jihad, juga bersumber dari penulis klasik maupun kontemporer sebagai sumber sekunder. Untuk melihat relevansi pemikirannya tentang jihad dalam konteks sekarang, maka artikel ini berusaha untuk melihat kemungkinan hubungan pemikian jihad Ibnu al-Muba&gt;rak dengan gagasan jihad global yang diusung oleh para mujahid global di antaranya oleh ‘Abdulla&gt;h ‘Azza&gt;m. 
Tiga pertanyaan yang dajukan: bagaimana konteks sejarah dan sosial yang dialami oleh Ibnu al-Muba&gt;rak yang melatarbelakangi kemunculan pemahamannya dalam masalah jihad?, bagaimana formulasi gagasan-gagasannya dalam masalah jihad?, dan bagaimana relevansi pemikiran jihad Ibnu alMuba&gt;rak bagi munculnya gerakan jihad global yang diusung oleh tokoh-tokoh mujahid global kontemporer? Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu al-Muba&gt;rak dalam masalah jihad meliputi tentang kedudukan jihad, hukum jihad, keutamaan dan ganjaran bagi mujahid, syahid dan pembagiannya, menjaga wilayah Islam, perang dan Hari Akhir. Dalam hubungannya dengan kemunculan jihad global dewasa ini terlihat tidak ada ketertaitan langsung antara pemikiran Ibnu al-Muba&gt;rak dengan pemikiran para jihadis global, kecuali bahwa yang pertama dijadikan sebagai role model dan inspirator bagi yang kedua di dalam menggugah semangat jihad. 
 
</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Abdulla&gt;h b. Al-Muba&gt;rak (118-181/736-797) merupakan generasi tabi’ tabi’in, salah satu generasi terbaik dalam Islam dan dianggap oleh penulis biografi Islam klasik sebagai penulis pertama tentang jihad, yang penulisannya berbeda dengan penulis sebelumnya. Karyanya berjudul Kita&gt;b al-Jiha&gt;d, Di&gt;wa&gt;n 
ibnu al-Muba&gt;rak (mengandung tema jihad) dan sebuah kitab Hadis, Musnad ibnu al-Muba&gt;rak. Artikel ini merupakan hasil dari penelitian kepustakaan yang menggunakan tiga karya Ibnu al-Muba&gt;rak baik sumber primer maupun karya lain yang bertemakan jihad, juga bersumber dari penulis klasik maupun kontemporer sebagai sumber sekunder. Untuk melihat relevansi pemikirannya tentang jihad dalam konteks sekarang, maka artikel ini berusaha untuk melihat kemungkinan hubungan pemikian jihad Ibnu al-Muba&gt;rak dengan gagasan jihad global yang diusung oleh para mujahid global di antaranya oleh ‘Abdulla&gt;h ‘Azza&gt;m. 
Tiga pertanyaan yang dajukan: bagaimana konteks sejarah dan sosial yang dialami oleh Ibnu al-Muba&gt;rak yang melatarbelakangi kemunculan pemahamannya dalam masalah jihad?, bagaimana formulasi gagasan-gagasannya dalam masalah jihad?, dan bagaimana relevansi pemikiran jihad Ibnu alMuba&gt;rak bagi munculnya gerakan jihad global yang diusung oleh tokoh-tokoh mujahid global kontemporer? Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu al-Muba&gt;rak dalam masalah jihad meliputi tentang kedudukan jihad, hukum jihad, keutamaan dan ganjaran bagi mujahid, syahid dan pembagiannya, menjaga wilayah Islam, perang dan Hari Akhir. Dalam hubungannya dengan kemunculan jihad global dewasa ini terlihat tidak ada ketertaitan langsung antara pemikiran Ibnu al-Muba&gt;rak dengan pemikiran para jihadis global, kecuali bahwa yang pertama dijadikan sebagai role model dan inspirator bagi yang kedua di dalam menggugah semangat jihad. 
 
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2183</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n1.147-180</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 147-180</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 147-180</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2183/600</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2185</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T04:23:39Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">METODOLOGI BACA TULIS AL-QU’RAN: Refleksi Belajar Al-Quran Pada Mahasiswa IAIN Palangkaraya</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">METODOLOGI BACA TULIS AL-QU’RAN: Refleksi Belajar Al-Quran Pada Mahasiswa IAIN Palangkaraya</dc:title>
	<dc:creator>Zaenap Hartati</dc:creator>
	<dc:creator>Emawati </dc:creator>
	<dc:creator>Latifah Anum Dalimunte</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Metodologi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Belajar</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Baca Tulis al-Quran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Metodologi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Belajar</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Baca Tulis al-Quran</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pada saat akan menjadi mahasiswa maupun kegiatan perkuliahan praktikum Praktik Membaca al-Quran (PMQ), mahasiswa IAIN Palangka Raya telah mengikuti test membaca al-Quran namun kemampuan membaca masih belum maksimal diperoleh mahasiswa yang mengalami kesulitan untuk membaca al-Quran dengan baik dan benar. Tujuan penelitian ini adalah mencoba menggali problem sebelum dan proses yang dilalui mahasiswa, sehingga akan ditemukan solusi atas persoalan kemampuan baca al-Quran mahasiswa IAIN Palangka Raya. Penelitian dilakukan di IAIN Palangka Raya. 

Penelitian ini akan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Informan adalah mahasiswa IAIN Palangka Raya. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian adalah: wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa: Metodologi yang digunakan mahasiswa IAIN Palangka Raya dalam mempelajari al-Quran pertama kali dominan diperoleh dari orang tua, kemudian diperoleh dari keluarga lainnya, selanjutnya diperoleh melalui guru mengaji maupun lembaga. Pendayagunaan kompetensi baca al-Quran oleh mahasiswa IAIN Palangka Raya, jika senantiasa dibaca dan dipelajari akan semakin baik bacaan al-Quran bahkan dapat mengajarkan kepada yang lainnya. Refleksi yang diperoleh dari pembelajaran al-Quran ketenangan hati, mendapatkan petunjuk, pahala yang berlipat dari bacaan al-Quran.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pada saat akan menjadi mahasiswa maupun kegiatan perkuliahan praktikum Praktik Membaca al-Quran (PMQ), mahasiswa IAIN Palangka Raya telah mengikuti test membaca al-Quran namun kemampuan membaca masih belum maksimal diperoleh mahasiswa yang mengalami kesulitan untuk membaca al-Quran dengan baik dan benar. Tujuan penelitian ini adalah mencoba menggali problem sebelum dan proses yang dilalui mahasiswa, sehingga akan ditemukan solusi atas persoalan kemampuan baca al-Quran mahasiswa IAIN Palangka Raya. Penelitian dilakukan di IAIN Palangka Raya. 

Penelitian ini akan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Informan adalah mahasiswa IAIN Palangka Raya. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian adalah: wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa: Metodologi yang digunakan mahasiswa IAIN Palangka Raya dalam mempelajari al-Quran pertama kali dominan diperoleh dari orang tua, kemudian diperoleh dari keluarga lainnya, selanjutnya diperoleh melalui guru mengaji maupun lembaga. Pendayagunaan kompetensi baca al-Quran oleh mahasiswa IAIN Palangka Raya, jika senantiasa dibaca dan dipelajari akan semakin baik bacaan al-Quran bahkan dapat mengajarkan kepada yang lainnya. Refleksi yang diperoleh dari pembelajaran al-Quran ketenangan hati, mendapatkan petunjuk, pahala yang berlipat dari bacaan al-Quran.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2185</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n1.181-204</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 181-204</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 1 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 181-204</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n1</dc:source>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2186</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T04:37:34Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">AL-QUR’AN SEBAGAI MUKJIZAT TERBESAR </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">AL-QUR’AN SEBAGAI MUKJIZAT TERBESAR </dc:title>
	<dc:creator>Huzaemah Tahido Yanggo  </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Al-Qur'an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Mukjizat Terbesar</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Al-Qur'an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Mukjizat Terbesar</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Mukjizat Nabi Muhammad Saw memiliki kekhususan dibandingkan dengan mukjizat Nabi-Nabi lainnya. Semua mukjizat sebelumnya dibatasi oleh ruang dan waktu, artinya hanya diperlihatkan kepada umat tertentu dan masa tertentu. Sedangkan mukjizat al-Qur‟an bersifat universal dan abadi yakni berlaku untuk semua umat manusia sampai akhir zaman. Karena itu, al-Qur‟an adalah sebagai mukjizat terbesar dari semua mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah Swt kepada para Nabi sebelumnya dan kepada Nabi Muhammad Saw sendiri.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Mukjizat-mukjizat para Nabi dan Rasul terdahulu berupa mukjizat materi bersifat indrawi, tetapi mukjizat Nabi Muhammad Saw berupa mukjizat ruhiyah yang bersifat rasional, kekal sepanjang masa, yaitu al-Qur‟an al-Karim sebagai mukjizat terbesar di antara mukjizat-mukjizat yang diberikan kepadanya. Begitu pula mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul sebelumnya, tidak nampak lagi fisik dan bekasnya, kecuali kisahnya saja yang dapat diketahui melalui pemberitaan al-Qur‟an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw.&amp;nbsp;</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Mukjizat Nabi Muhammad Saw memiliki kekhususan dibandingkan dengan mukjizat Nabi-Nabi lainnya. Semua mukjizat sebelumnya dibatasi oleh ruang dan waktu, artinya hanya diperlihatkan kepada umat tertentu dan masa tertentu. Sedangkan mukjizat al-Qur‟an bersifat universal dan abadi yakni berlaku untuk semua umat manusia sampai akhir zaman. Karena itu, al-Qur‟an adalah sebagai mukjizat terbesar dari semua mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah Swt kepada para Nabi sebelumnya dan kepada Nabi Muhammad Saw sendiri.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Mukjizat-mukjizat para Nabi dan Rasul terdahulu berupa mukjizat materi bersifat indrawi, tetapi mukjizat Nabi Muhammad Saw berupa mukjizat ruhiyah yang bersifat rasional, kekal sepanjang masa, yaitu al-Qur‟an al-Karim sebagai mukjizat terbesar di antara mukjizat-mukjizat yang diberikan kepadanya. Begitu pula mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul sebelumnya, tidak nampak lagi fisik dan bekasnya, kecuali kisahnya saja yang dapat diketahui melalui pemberitaan al-Qur‟an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw.&amp;nbsp;</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2186</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n2.1-26</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 1-26</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 1-26</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2186/601</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2189</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T04:44:16Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">REINTERPRETASI  HADIS-HADIS PEREMPUAN </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">REINTERPRETASI  HADIS-HADIS PEREMPUAN </dc:title>
	<dc:creator>Ahmad Munif Suratmaputra  </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Reinterpretasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hadis dan Perempuan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Reinterpretasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Hadis dan Perempuan</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Apa yang di sampaikan dalam artikel ini terkait dengan beberapa upaya pemahaman kembali beberapa hadis-hadis perempuan dalam tataran prinsip Imkaniyyat al-Ijtihad fi alAdillah adz-Dzanniyyat. Artikel ini kemudian menjelaskan pula, bahwa semua Hadis sekalipun otentisitasnya dapat dipertanggung-jawabkan, namun dilalah-nya dzanni, yang oleh karenanya dalam memahami dan menangkap pesan-pesan dari Hadis-Hadis tersebut tidak aneh kalau terjadi perbedaan pendapat (hhilaf al-Ara'), suatu hal yang memang ditolerir oleh Islam.&amp;nbsp;
Sisi lain yang perlu dicatat bahwa tidak semua hadis tersebut disampaikan dalam konteks Tasyri' al-Ahkam (penetapan hukum Islam). Ada di antara Hadis yang disampaikan oleh Rasul dalam konteks Fadlail A'mal dan Targhib wa-Tarhib (Menyangkut masalah tatakrama dan etika pergaulan serta anjuran), dari dasar-dasar inilah kemudian perlu adanya sebuah reinterpretasi hadis, terutama dalam konteks hadis tentang perempuan. Karena banyak tafsiran hadis tentang perempuan tidak dipahami sesuai dengan konteknya, seperti tantang hadis penciptaan terhadap perempuan, hadis tentang kepemimpinan terhadap perempuan, hadis tentang laknat malaikat kepada istri, hadis tentang puasa sunah bagi istri, dan hadis tentang peminangan (khitbah).</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Apa yang di sampaikan dalam artikel ini terkait dengan beberapa upaya pemahaman kembali beberapa hadis-hadis perempuan dalam tataran prinsip Imkaniyyat al-Ijtihad fi alAdillah adz-Dzanniyyat. Artikel ini kemudian menjelaskan pula, bahwa semua Hadis sekalipun otentisitasnya dapat dipertanggung-jawabkan, namun dilalah-nya dzanni, yang oleh karenanya dalam memahami dan menangkap pesan-pesan dari Hadis-Hadis tersebut tidak aneh kalau terjadi perbedaan pendapat (hhilaf al-Ara'), suatu hal yang memang ditolerir oleh Islam.&amp;nbsp;
Sisi lain yang perlu dicatat bahwa tidak semua hadis tersebut disampaikan dalam konteks Tasyri' al-Ahkam (penetapan hukum Islam). Ada di antara Hadis yang disampaikan oleh Rasul dalam konteks Fadlail A'mal dan Targhib wa-Tarhib (Menyangkut masalah tatakrama dan etika pergaulan serta anjuran), dari dasar-dasar inilah kemudian perlu adanya sebuah reinterpretasi hadis, terutama dalam konteks hadis tentang perempuan. Karena banyak tafsiran hadis tentang perempuan tidak dipahami sesuai dengan konteknya, seperti tantang hadis penciptaan terhadap perempuan, hadis tentang kepemimpinan terhadap perempuan, hadis tentang laknat malaikat kepada istri, hadis tentang puasa sunah bagi istri, dan hadis tentang peminangan (khitbah).</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2189</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n2.27-42</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 27-42</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 27-42</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2189/602</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2190</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T04:49:56Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">HAKIKAT KEBENARAN MENGKAJI TASAWUF AKHLAKI – AKHLAK KENABIAN </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">HAKIKAT KEBENARAN MENGKAJI TASAWUF AKHLAKI – AKHLAK KENABIAN </dc:title>
	<dc:creator>Artani Hasbi </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kebenaran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Akhlak</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tasawuf</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kenabian</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kebenaran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Akhlak</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Tasawuf</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kenabian</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Kebenaran menjadi idaman setiap manusia. Ia mempunyai makna khusus dalam kehidupan. Ia adalah tumpuan dari segala pemikiran, sikap dan tindakan. Ia yang memberi arti hidup. Hakikat kebenaran perlu dikaji salah satunya melalui tasawuf.&amp;nbsp; Tasawuf adalah akhlak kenabian yang akan terus menjadi sumber inspirasi dan motivasi, memberi makna dan arah, serta menjadi kendali hakiki bagi terbangunnya peradaban manusia. Ia merupakan sumber utama arus-spiritual, moral, intelektual, bahkan keseluruhan jiwa manusia dalam memelihara dan mengembangkan makna dan fungsi kehambaan&amp;nbsp; dan kekhalifahan diri pribadi manusia. Dengan tasawuf makna kemanusiaan selalu terjaga dan terangkat marwah dan martabatnya, tetap eksis dalam perannya, dan memiliki nilai transenden serta selalu harmonis dalam dinamika kehidupan&amp;nbsp; umat dan masyarakat banyak.&amp;nbsp;
Tasawuf, pada dasarnya merupakan ilmu hakikat tentang tradisi dan akhlak kenabian, puncak rasionalitas kemanusiaan. Tasawuf senantiasa berdampingan, bahkan tidak bisa terpisahkan dari sistem dan fungsi pemandu spiritual kerohanian. Dan arus kerohanian tasawuf bersumber dan bermuara pada kepribadian dan akhlak nabi Muhammad Saw yang dinyatakan oleh al-Quran sebagai ''ummi'', tetapi menjadi prototype manusia ideal atau uswah hasanah.&amp;nbsp;</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Kebenaran menjadi idaman setiap manusia. Ia mempunyai makna khusus dalam kehidupan. Ia adalah tumpuan dari segala pemikiran, sikap dan tindakan. Ia yang memberi arti hidup. Hakikat kebenaran perlu dikaji salah satunya melalui tasawuf.&amp;nbsp; Tasawuf adalah akhlak kenabian yang akan terus menjadi sumber inspirasi dan motivasi, memberi makna dan arah, serta menjadi kendali hakiki bagi terbangunnya peradaban manusia. Ia merupakan sumber utama arus-spiritual, moral, intelektual, bahkan keseluruhan jiwa manusia dalam memelihara dan mengembangkan makna dan fungsi kehambaan&amp;nbsp; dan kekhalifahan diri pribadi manusia. Dengan tasawuf makna kemanusiaan selalu terjaga dan terangkat marwah dan martabatnya, tetap eksis dalam perannya, dan memiliki nilai transenden serta selalu harmonis dalam dinamika kehidupan&amp;nbsp; umat dan masyarakat banyak.&amp;nbsp;
Tasawuf, pada dasarnya merupakan ilmu hakikat tentang tradisi dan akhlak kenabian, puncak rasionalitas kemanusiaan. Tasawuf senantiasa berdampingan, bahkan tidak bisa terpisahkan dari sistem dan fungsi pemandu spiritual kerohanian. Dan arus kerohanian tasawuf bersumber dan bermuara pada kepribadian dan akhlak nabi Muhammad Saw yang dinyatakan oleh al-Quran sebagai ''ummi'', tetapi menjadi prototype manusia ideal atau uswah hasanah.&amp;nbsp;</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2190</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n2.43-70</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 43-70</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 43-70</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2190/603</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2193</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T05:57:16Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">WAKAF UANG DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">WAKAF UANG DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator>Syarif Hidayatullah </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Wakaf</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Uang</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hukum Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hukum Positif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Wakaf</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Uang</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Hukum Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Hukum Positif</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Wakaf uang sangat potensial untuk dikembangkan di lndonesia, karena dengan wakaf uang ini, daya jangkau mobilisasinya akan jauh lebih merata kepada masyarakat dibandingkan dengan model wakaf tradisional-konvensional dalam bentuk harta fisik. Dalam Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 4l Tahun 2004 tentang wakaf terdapat klausul mengenai objek wakaf berupa uang dan Surat Berharga. Wakaf uang diatur dalam bab khusus yang berjudul &quot;Benda Bergerak berupa Uang&quot;, sementara wakaf Surat Berharga diatur dalam bab &quot;Benda Bergerak Selain Uang&quot;.
Meskipun wakaf uang itu sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia dan telah dijamin dalam hukum positif di Indonesia melalui Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tersebut,&amp;nbsp; namun sebagian ulama dan masyarakat di Indonesia masih ada yang beranggapan bahwa wakaf uang tidak sah, karena syarat sah wakaf bendanya tetap, sedangkan uang bisa habis. Sehubungan dengan semua yang telah disebutkan di atas, penulis tertarik untuk mengkaji masalah wakaf uang dalam perspektif hukum Islam dan hukum positif di Indonesia, yang dapat dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimanakah Kedudukan Hukum 
Wakaf Uang dan Penerapannya dalam Hukum Islam dan Hukum 
Positif di Indonesia”.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Wakaf uang sangat potensial untuk dikembangkan di lndonesia, karena dengan wakaf uang ini, daya jangkau mobilisasinya akan jauh lebih merata kepada masyarakat dibandingkan dengan model wakaf tradisional-konvensional dalam bentuk harta fisik. Dalam Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 4l Tahun 2004 tentang wakaf terdapat klausul mengenai objek wakaf berupa uang dan Surat Berharga. Wakaf uang diatur dalam bab khusus yang berjudul &quot;Benda Bergerak berupa Uang&quot;, sementara wakaf Surat Berharga diatur dalam bab &quot;Benda Bergerak Selain Uang&quot;.
Meskipun wakaf uang itu sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia dan telah dijamin dalam hukum positif di Indonesia melalui Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tersebut,&amp;nbsp; namun sebagian ulama dan masyarakat di Indonesia masih ada yang beranggapan bahwa wakaf uang tidak sah, karena syarat sah wakaf bendanya tetap, sedangkan uang bisa habis. Sehubungan dengan semua yang telah disebutkan di atas, penulis tertarik untuk mengkaji masalah wakaf uang dalam perspektif hukum Islam dan hukum positif di Indonesia, yang dapat dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimanakah Kedudukan Hukum 
Wakaf Uang dan Penerapannya dalam Hukum Islam dan Hukum 
Positif di Indonesia”.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2193</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n2.71-100</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 71-100</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 71-100</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2193/604</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2195</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T06:12:00Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">IMPLEMENTASI KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MAN MODEL BABAKAN CIWARINGIN CIREBON </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">IMPLEMENTASI KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MAN MODEL BABAKAN CIWARINGIN CIREBON </dc:title>
	<dc:creator>Ahmad Syatori</dc:creator>
	<dc:creator>Sadari </dc:creator>
	<dc:creator>Taufiq Ridwan</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pendidikan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Multikultural</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">MAN Ciwaringin</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Pendidikan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Multikultural</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">MAN Ciwaringin</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pendidikan multikultural, sebagai sebuah konsep, dipahami dan dimengerti orang dengan beragama cara. Pemahaman seseorang atau sekelompok orang tentang konsep ini sangat dipengaruhi oleh pemahamannya tentang konsep multikulturalisme, sebab merupakan konsep dasar yang menjadi latar belakang munculnya istilah pendidikan multikultural. Jadi, untuk mengetahui bagaimana dan sejauh apa implementasi konsep pendidikan multikultural oleh seseorang atau sekelompok orang, maka terlebih dahulu mesti diketahui bagaimana pemahaman mereka mengenai konsep dan ide-ide tentang multikulturalisme dan konsep pendidikan multikultural.&amp;nbsp;
Dalam konteks penelitian ini, orang atau kelompok orang itu mengacu pada kategori siswa, guru, pengurus madrasah dan komite madrasah MAN Model Babakan Ciwaringin Cirebon. Karena pertimbangan alur pikir inilah maka penelitian ini berusaha untuk menganalisis dan mengurai masalah penelitian pada tiga level data sekaligus. Pertama, data mengenai pemahaman dan sikap subyek penelitian mengenai ide-ide multikulturalisme. Kedua, data mengenai pemahaman dan sikap subyek penelitian mengenai konsep pendidikan multikultural, dengan proses pencarian dan pengumpulan data dilakukan melalui teknik survey dengan penyebaran kuesioner yang didukung oleh data hasil wawancara mendalam (indept interview) dan FGD (Focus Group Discussion). Ketiga, data mengenai implementasi atau penerapan konsep pendidikan multikultural dalam proses belajar mengajar di MAN Model Babakan Ciwaringin Cirebon. Selain dari hasil wawancara mendalam (indept interview), data pada level ini juga ditunjang dengan data hasil FGD (Focus Group Discussion), pengamatan terlibat dan studi dokumen</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pendidikan multikultural, sebagai sebuah konsep, dipahami dan dimengerti orang dengan beragama cara. Pemahaman seseorang atau sekelompok orang tentang konsep ini sangat dipengaruhi oleh pemahamannya tentang konsep multikulturalisme, sebab merupakan konsep dasar yang menjadi latar belakang munculnya istilah pendidikan multikultural. Jadi, untuk mengetahui bagaimana dan sejauh apa implementasi konsep pendidikan multikultural oleh seseorang atau sekelompok orang, maka terlebih dahulu mesti diketahui bagaimana pemahaman mereka mengenai konsep dan ide-ide tentang multikulturalisme dan konsep pendidikan multikultural.&amp;nbsp;
Dalam konteks penelitian ini, orang atau kelompok orang itu mengacu pada kategori siswa, guru, pengurus madrasah dan komite madrasah MAN Model Babakan Ciwaringin Cirebon. Karena pertimbangan alur pikir inilah maka penelitian ini berusaha untuk menganalisis dan mengurai masalah penelitian pada tiga level data sekaligus. Pertama, data mengenai pemahaman dan sikap subyek penelitian mengenai ide-ide multikulturalisme. Kedua, data mengenai pemahaman dan sikap subyek penelitian mengenai konsep pendidikan multikultural, dengan proses pencarian dan pengumpulan data dilakukan melalui teknik survey dengan penyebaran kuesioner yang didukung oleh data hasil wawancara mendalam (indept interview) dan FGD (Focus Group Discussion). Ketiga, data mengenai implementasi atau penerapan konsep pendidikan multikultural dalam proses belajar mengajar di MAN Model Babakan Ciwaringin Cirebon. Selain dari hasil wawancara mendalam (indept interview), data pada level ini juga ditunjang dengan data hasil FGD (Focus Group Discussion), pengamatan terlibat dan studi dokumen</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2195</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n2.101-138</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 101-138</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 101-138</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2195/605</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2196</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T06:19:11Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">STANDARISASI KURIKULUM USHUL FIQH </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">STANDARISASI KURIKULUM USHUL FIQH </dc:title>
	<dc:creator>Sugeng Aminudin </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Standarisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kurikulum</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Ushul Fiqh</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Standarisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kurikulum</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Ushul Fiqh</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Saat ini kurikulum ushul fiqh yang dipakai di Perguruan Tinggi Islam&amp;nbsp; masih memberikan contoh kasus-kasus beberapa abad silam. Sangat sedikit sekali berbicara tentang kasus-kasus kontemporer. Literatur ushul fiqh kita lebih didominasi contoh kasus-kasus ibadah, jinayah, munakahat. Akibatnya, mata kuliah ushul fiqh yang diajarkan tidak bisa merespon isu-isu, problem dan kasus-kasus kontemporer yang terus bermunculan. Kesenjangan antara ushul (pokok) dan furu’(fiqh) ini pada akhirnya tidak mampu mengantar seorang akademisi dan praktisi kepada pemahaman metodologi istinbath kasus-kasus kontemporer yang terus berkembang dan semakin kompleks. Kesenjangan antara materi&amp;nbsp; ushul fiqh yang diajarkan dengan kasus-kasus aktual akan membuat ushul fiqh menjadi mandul.&amp;nbsp; Kemandulan ushul fiqh dalam melahirkan produk-produk fiqh, khususnya masalah-masalah kontemporer, akan membuka peluang tuduhan bahwa ushul fiqh tidak fungsional, tidak aplikatif dan tidak mampu berbicara pada kasus-kasus kontemporer. Dan lebih jauh lagi muncul anggapan bahwa fiqh hanya fasih berbicara masalah ritual peribadahan saja, jumud tidak solutif dan stigma negatif lainnya.
Dalam usaha menciptakan output lulusan yang unggul dan kompetitif, setiap Perguruan Tinggi di tuntut untuk meningkatkan mutu manajemen kurikulum secara tepat. Salah satunya adalah inovasi kurikulum berbasis integrasi ilmu. Hal&amp;nbsp; inilah yang akan menjadi Dasar pijakan dalam kebijakan pengembangan kurikulum yang akan menentukan arah dan tujuan pendidikan yang akan di capai Perguruan Tinggi Islam.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Saat ini kurikulum ushul fiqh yang dipakai di Perguruan Tinggi Islam&amp;nbsp; masih memberikan contoh kasus-kasus beberapa abad silam. Sangat sedikit sekali berbicara tentang kasus-kasus kontemporer. Literatur ushul fiqh kita lebih didominasi contoh kasus-kasus ibadah, jinayah, munakahat. Akibatnya, mata kuliah ushul fiqh yang diajarkan tidak bisa merespon isu-isu, problem dan kasus-kasus kontemporer yang terus bermunculan. Kesenjangan antara ushul (pokok) dan furu’(fiqh) ini pada akhirnya tidak mampu mengantar seorang akademisi dan praktisi kepada pemahaman metodologi istinbath kasus-kasus kontemporer yang terus berkembang dan semakin kompleks. Kesenjangan antara materi&amp;nbsp; ushul fiqh yang diajarkan dengan kasus-kasus aktual akan membuat ushul fiqh menjadi mandul.&amp;nbsp; Kemandulan ushul fiqh dalam melahirkan produk-produk fiqh, khususnya masalah-masalah kontemporer, akan membuka peluang tuduhan bahwa ushul fiqh tidak fungsional, tidak aplikatif dan tidak mampu berbicara pada kasus-kasus kontemporer. Dan lebih jauh lagi muncul anggapan bahwa fiqh hanya fasih berbicara masalah ritual peribadahan saja, jumud tidak solutif dan stigma negatif lainnya.
Dalam usaha menciptakan output lulusan yang unggul dan kompetitif, setiap Perguruan Tinggi di tuntut untuk meningkatkan mutu manajemen kurikulum secara tepat. Salah satunya adalah inovasi kurikulum berbasis integrasi ilmu. Hal&amp;nbsp; inilah yang akan menjadi Dasar pijakan dalam kebijakan pengembangan kurikulum yang akan menentukan arah dan tujuan pendidikan yang akan di capai Perguruan Tinggi Islam.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2196</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n2.139-150</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 139-150</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 139-150</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2196/606</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2197</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T06:27:03Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">MENCARI FORMAT ILMU PENGETAHUAN  BERBASIS QURAN </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">MENCARI FORMAT ILMU PENGETAHUAN  BERBASIS QURAN </dc:title>
	<dc:creator>Mokhamad Iqbal Khomaini </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Ilmu Pengetahuan dan al-Qur‟an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Ilmu Pengetahuan dan al-Qur‟an</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Ilmu pengetahuan berbasis Qur‟an adalah alternatif untuk meningkatkan moralitas bangsa. Ilmu pengetahuan ini memiliki pendekatan ilmu dari berbagai sudut sehingga sebuah kepribadian manusia yang dibentuk adalah pribadi yang integral, utuh sebagai sosok yang berorientasi sempurna dunia dan akhirat. Pernah ada usaha untuk menjadikan kurikulum berbasis karakter sebagai panduan, diantaranya, munculnya kurikulum berbasis karakter tahun 2010 dimana diharapkan setiap mata pelajaran bermuatan nilai karakter kebaikan. Dilanjutkan dengan kurikulum berbasis penilitian dan scientifik pada tahun 2013 dimana karakter dijadikan sebagai sebuah kompetensi seperti K-1 dan K-2.
Tetapi usaha tersebut kurang fundamental karena epistemologi ilmu pengetahuan yang digunakan berasaskan nilainilai ideologi barat yang jauh dari moral. Usaha untuk menjadikan Qur‟an sebagai basis ilmu pengetahuan belum terealisasi hingga saat ini. Kalau begitu, ilmu pengetahuan berbasis Qur‟an bentuknya seperti apa? Bagaimana metodologi penafsiran ayat-ayat Quran seharusnya untuk bisa menghasilkan ilmu pengetahuan yang orisinil Qur‟ani? Dimana ilmu pengetahuan tersebut mampu menghantarkan manusia pada ahlak yang luhur juga membangun peradaban yang maju menandingi penemuan ilmuwan Barat.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Ilmu pengetahuan berbasis Qur‟an adalah alternatif untuk meningkatkan moralitas bangsa. Ilmu pengetahuan ini memiliki pendekatan ilmu dari berbagai sudut sehingga sebuah kepribadian manusia yang dibentuk adalah pribadi yang integral, utuh sebagai sosok yang berorientasi sempurna dunia dan akhirat. Pernah ada usaha untuk menjadikan kurikulum berbasis karakter sebagai panduan, diantaranya, munculnya kurikulum berbasis karakter tahun 2010 dimana diharapkan setiap mata pelajaran bermuatan nilai karakter kebaikan. Dilanjutkan dengan kurikulum berbasis penilitian dan scientifik pada tahun 2013 dimana karakter dijadikan sebagai sebuah kompetensi seperti K-1 dan K-2.
Tetapi usaha tersebut kurang fundamental karena epistemologi ilmu pengetahuan yang digunakan berasaskan nilainilai ideologi barat yang jauh dari moral. Usaha untuk menjadikan Qur‟an sebagai basis ilmu pengetahuan belum terealisasi hingga saat ini. Kalau begitu, ilmu pengetahuan berbasis Qur‟an bentuknya seperti apa? Bagaimana metodologi penafsiran ayat-ayat Quran seharusnya untuk bisa menghasilkan ilmu pengetahuan yang orisinil Qur‟ani? Dimana ilmu pengetahuan tersebut mampu menghantarkan manusia pada ahlak yang luhur juga membangun peradaban yang maju menandingi penemuan ilmuwan Barat.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2197</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n2.151-170</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 151-170</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 151-170</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2197/607</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2198</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T06:32:02Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kontekstualisasi Hadis Berbasis Konsep Maqashid Syariah: Analisis Metodologi Aktualisasi Hadis Pada Sosial-Kultural Indonesia</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Kontekstualisasi Hadis Berbasis Konsep Maqashid Syariah: Analisis Metodologi Aktualisasi Hadis Pada Sosial-Kultural Indonesia</dc:title>
	<dc:creator>Refki Saputra</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Contextualization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hadith</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Maqashid sharia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Socio-cultural</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Indonesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kontekstualisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Hadis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Maqashid syariah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Sosial-kultural</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Indonesia</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Hadith appeared on the Arab socio-cultural spectrum in the Middle Ages, it must be actualized in the reality of today's society, so that its substantial values continue to live. The purpose of this study is to explain the methodology of contextualizing hadith based on the maqashid syariah approach, so that Indonesian contextual interpretations can be constructed in the perspective of maqashid syariah. In this study, the authors used a qualitative method with a descriptive analysis approach by referring to various valid and qualified data sources. This research leads to the conclusion that maqashid sharia has a fundamental role in the contextualization of hadith, so that the Indonesian contextual meaning formulated is in line with the configuration of Islamic law. Among the contextualization theories of the Maqashid approach; analysis of the benefit of hadith objectives, interpretation of hadith based on contextual benefits, and identification of substantial objectives and conditional means.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Hadis muncul pada spektrum sosial-kultural Arab pada abad pertengahan, harus diinterpretasikan dan diaktualisasikan pada realitas kehidupan masyarakat di zaman sekarang, agar ajaran-ajarannya yang mulia tetap hidup dan menjadi guidance kehidupan. Tujuan penelitian ini menjelaskan metodologi kontekstualisasi hadis berbasis maqashid syariah approach, agar interpretasi kontekstual keindonesiaan dapat dikonstruksikan dalam perspektif maqashid syariah. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Penelitian ini mengantarkan pada kesimpulan bahwa maqashid syariah memiliki peranan fundamental dalam kontekstualisasi hadis, sehingga makna kontekstual keindonesiaan yang dirumuskan sejalan dengan konfigurasi ajaran Islam dan merealiasaikan kemaslahatan. Di antara teori-teori kontekstualisasi maqashid approach; analisis tujuan kemaslahatan hadis, interpretasi hadis berbasis kemaslahatan kontekstual, dan identifikasi tujuan substansial dan sarana kondisional</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2024-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2198</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v9n1.97-112</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 97-112</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 9 No 1 (2024): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 97-112</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v9n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2198/608</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2199</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T06:34:33Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">HISTORY AND DEVELOPMENT OF TAFSIR IN SOUTHEAST ASIA </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">HISTORY AND DEVELOPMENT OF TAFSIR IN SOUTHEAST ASIA </dc:title>
	<dc:creator>Amirulloh Sain Asari </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">History</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Development Tafsir</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Southeast Asia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">History</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Development Tafsir</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Southeast Asia</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">This paper describes the history and development of tafsir in Southeast Asia, namely Indonesia, Malaysia, Brunei Darusalam, Singapore and Thailand, aimed at providing a new discourse to the academic world, that Islam has a another treasure in Far&amp;nbsp; Asia, which is known as a pluralistic country because Islam entered in those countries without any wars. And to provide information related the books, author influence and method of their tafsir in general.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Artikel ini membahas sejarah dan perkembangan ilmu Tafsir di Asia Tenggara tepatnya di İndonesia, Malaysia, Singapore, Brunai Darussalam, dan Thailand, kemudian difokuskan pada kajian riwayat hidup sang penulis, motode yang digunakan, karakteristik, dan latar belakang penulisannya. Dan sebagai data pelengkap penulis menyusun tabel riwayat karya tafsir di masing-masing negara yang diurutkan berdasarkan tahun penulisannya. Adapun tujuan dari kajian ini adalah menemukan karakter tafsir yang ramai ditulis dan diajarkan di Asia Tenggara sebagai pola ideal&amp;nbsp; dalam mengajarkan al-Qur‟an di masyarakat.
&amp;nbsp;</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2016-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2199</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v1n2.171-210</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 171-210</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 1 No 2 (2016): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 171-210</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v1n2</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2199/609</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2201</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T07:34:10Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US"> ثطبيق الشريعة الإسلامية في إندونيسيا</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID"> ثطبيق الشريعة الإسلامية في إندونيسيا</dc:title>
	<dc:creator>Huzaemah Tahido Yanggo  </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Sejarah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hukum Islam Indonesia dan Perundangan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Sejarah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Hukum Islam Indonesia dan Perundungan</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Terbitnya Perppu No. 2 tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat menimbulkan polemik hebat di seluruh pelosok tanah air. Ada yang mendukung namun tak sedikit juga yang menentang. Kelompok pendukung beranggapan bahwa Perppu ini sebagai respon yang tepat dari pemerintah atas maraknya berbagai serangan terorisme di Indonesia. Sementara bagi kelompok penentang, perppu ini merupakan bukti bahwa rezim sekarang sedang membangun system diktator. Selain itu mereka juga menuding bahwa ormas Islam yang akan banyak menjadi korban penerapan perppu tersebut, khususnya ormas Islam yang dikenal memperjuangkan formalisasi penerapan syariah Islam (tathbiq syari’ah) di Indonesia.&amp;nbsp;
Artikel ini tidak hendak memperpanjang daftar polemik Perppu tersebut, tetapi akan mencoba menjelaskan sejarah perjalanan penerapan hukum Islam di Indonesia. Tulisan ini hendak membuktikan bahwa hukum Islam sudah berjalan dan menyatu dengan tradisi dan budaya bangsa Indonesia. Dengan bukti sejarah bahwa ketika nusantara berada dalam tekanan penjajahan, hukum Islam masih bisa berlaku secara baik, bahkan diakui dalam sistem perundang-undangan Belanda dan Jepang. Maka artikel ini menegaskan secara ilmiah, dengan menganalisis data sejarah perkembangan hukum Islam di Indonesia bahwa adanya atau tidak adanya Perppu bahkan apapun bentuk kebijakan pemerintah yang dianggap menghalangi penerapan hukum Islam, tidak akan berpengaruh terhadap eksistensi hukum Islam di Indonesia.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Terbitnya Perppu No. 2 tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat menimbulkan polemik hebat di seluruh pelosok tanah air. Ada yang mendukung namun tak sedikit juga yang menentang. Kelompok pendukung beranggapan bahwa Perppu ini sebagai respon yang tepat dari pemerintah atas maraknya berbagai serangan terorisme di Indonesia. Sementara bagi kelompok penentang, perppu ini merupakan bukti bahwa rezim sekarang sedang membangun system diktator. Selain itu mereka juga menuding bahwa ormas Islam yang akan banyak menjadi korban penerapan perppu tersebut, khususnya ormas Islam yang dikenal memperjuangkan formalisasi penerapan syariah Islam (tathbiq syari’ah) di Indonesia.&amp;nbsp;
Artikel ini tidak hendak memperpanjang daftar polemik Perppu tersebut, tetapi akan mencoba menjelaskan sejarah perjalanan penerapan hukum Islam di Indonesia. Tulisan ini hendak membuktikan bahwa hukum Islam sudah berjalan dan menyatu dengan tradisi dan budaya bangsa Indonesia. Dengan bukti sejarah bahwa ketika nusantara berada dalam tekanan penjajahan, hukum Islam masih bisa berlaku secara baik, bahkan diakui dalam sistem perundang-undangan Belanda dan Jepang. Maka artikel ini menegaskan secara ilmiah, dengan menganalisis data sejarah perkembangan hukum Islam di Indonesia bahwa adanya atau tidak adanya Perppu bahkan apapun bentuk kebijakan pemerintah yang dianggap menghalangi penerapan hukum Islam, tidak akan berpengaruh terhadap eksistensi hukum Islam di Indonesia.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2017-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2201</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v2n1.1-20</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 2 No 1 (2017): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 1-20</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 2 No 1 (2017): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 1-20</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v2n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2201/610</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2202</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T07:56:37Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">PROBLEMATIKA UANG HARAM  DALAM KAJIAN FIQH </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PROBLEMATIKA UANG HARAM  DALAM KAJIAN FIQH </dc:title>
	<dc:creator>Ahmad Munif Suratmaputra</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Problematika</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Uang Haram</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kajian Fiqh</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Problematika</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Uang Haram</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kajian Fiqh</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pada dasarnya uang adalah alat untuk pembayaran suatu barang terkait kebutuhan yang diminiati, namun akan menjadi salah dalam realisasinya pada nilai kandungan hukumnya. Uang akan menjadi alat tidak hanya sekedar transaksi jual beli, namun uang juga menjadi alat ambisius seseorang dalam segala kepentingan yang dituju. Oleh karena itu uang harus diberikan tuntunan yang syar‟i sesuai hukum Islam, tentunya dengan perspektif ushul fiqh. Tuntunan dalam Islam bukan menghukumi uang dalam label halal ataupun haram, namun lebih menekankan pada pengguna uang tersebut. Dalam kondisi ekonomi sulit bahkan ekonomi yang semapan apapun dari zaman kezaman harus ada regulasi terkait dengan ketentuan hukum terkait uang.&amp;nbsp;
Konsep ushul fiqh telah dijelaskan untuk senantiasa menjaga harta/uang (hifdzul mal), dalam menjaga atau melindungi harta/uang sedari dulu, setiap orang menjaga harta/uang dengan cara-cara manual dan klasik, namun pada saat zaman modern sekarang menjaga harta/uang tentunya melalui perantara Bank, baik Bank Konvensional maupun Bank Syariah. Untuk itulah apapun dan bagaimanapun sulit serta mudahnya menggunakan harta/uang maka perlu ada cara-cara baik, santun adil serta bermanfaat untuk kemaslahatan umat.
Dalam menghadapi masalah-masalah hal ini, Islam memandang fenomena uang haram terkait kegunaan dan fungsi harus berimplikasi pada ajaran-ajaran agama. Artikel ini akan menganalisis bagaimana ungkapan &quot;uang haram&quot; dalam arti majazi, apakah uang haram itu dilihat dari sudut diperoleh lewat jalan haram atau uang yang haram tersebut harus di-tasarruf-kan.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pada dasarnya uang adalah alat untuk pembayaran suatu barang terkait kebutuhan yang diminiati, namun akan menjadi salah dalam realisasinya pada nilai kandungan hukumnya. Uang akan menjadi alat tidak hanya sekedar transaksi jual beli, namun uang juga menjadi alat ambisius seseorang dalam segala kepentingan yang dituju. Oleh karena itu uang harus diberikan tuntunan yang syar‟i sesuai hukum Islam, tentunya dengan perspektif ushul fiqh. Tuntunan dalam Islam bukan menghukumi uang dalam label halal ataupun haram, namun lebih menekankan pada pengguna uang tersebut. Dalam kondisi ekonomi sulit bahkan ekonomi yang semapan apapun dari zaman kezaman harus ada regulasi terkait dengan ketentuan hukum terkait uang.&amp;nbsp;
Konsep ushul fiqh telah dijelaskan untuk senantiasa menjaga harta/uang (hifdzul mal), dalam menjaga atau melindungi harta/uang sedari dulu, setiap orang menjaga harta/uang dengan cara-cara manual dan klasik, namun pada saat zaman modern sekarang menjaga harta/uang tentunya melalui perantara Bank, baik Bank Konvensional maupun Bank Syariah. Untuk itulah apapun dan bagaimanapun sulit serta mudahnya menggunakan harta/uang maka perlu ada cara-cara baik, santun adil serta bermanfaat untuk kemaslahatan umat.
Dalam menghadapi masalah-masalah hal ini, Islam memandang fenomena uang haram terkait kegunaan dan fungsi harus berimplikasi pada ajaran-ajaran agama. Artikel ini akan menganalisis bagaimana ungkapan &quot;uang haram&quot; dalam arti majazi, apakah uang haram itu dilihat dari sudut diperoleh lewat jalan haram atau uang yang haram tersebut harus di-tasarruf-kan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2017-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2202</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v2n1.21-34</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 2 No 1 (2017): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 21-34</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 2 No 1 (2017): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 21-34</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v2n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2202/611</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2203</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T08:02:42Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">SYARIAH ISLAM DAN KEKUASAAN </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">SYARIAH ISLAM DAN KEKUASAAN </dc:title>
	<dc:creator>Sadari </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Islam Kekuasaan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Pemimpin Wanita</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Islam Kekuasaan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Pemimpin Wanita</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Kontroversi peran wanita dalam politik (kekuasaan) menjadi ajang menarik untuk diperbincangkan. Pro dan kontra tak dapat terhindarkan. Satu sisi ada yang menaruh harapan, namun disisi lain merasakan kekhawatiran dan ketakutan yang luar biasa. Dualisme pro dan kontra tersebut karena dipicu oleh suatu polemik yang dipahami secara berbeda dari hadis yang berbunyi: “mereka yang mempercayakan urusan mereka kepada wanita, tidak akan merasakan kemakmuran”. Hadis tersebut kemudian menghasilkan dua pendapat, untuk pendapat pertama berusaha mengkultuskan peran kelelakian sehingga hadis tersebut di jadikan „senjata pamungkas‟ untuk meng-counter dan memarginalkan peran wanita dalam kanca politik (kepala Negara), sedangkan pendapat yang kedua berusaha mendobrak kultus kelelakian, sehingga pendapatnya berusaha menggugat keberadaan dan keabsahan hadis tersebut. Artikel ini menganalisis bagaimana dalam konteks syariah Islam memberikan ruang dalam kekuasaan terhadap perempuan untuk menjadi pemimpin kepala Negara.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Kontroversi peran wanita dalam politik (kekuasaan) menjadi ajang menarik untuk diperbincangkan. Pro dan kontra tak dapat terhindarkan. Satu sisi ada yang menaruh harapan, namun disisi lain merasakan kekhawatiran dan ketakutan yang luar biasa. Dualisme pro dan kontra tersebut karena dipicu oleh suatu polemik yang dipahami secara berbeda dari hadis yang berbunyi: “mereka yang mempercayakan urusan mereka kepada wanita, tidak akan merasakan kemakmuran”. Hadis tersebut kemudian menghasilkan dua pendapat, untuk pendapat pertama berusaha mengkultuskan peran kelelakian sehingga hadis tersebut di jadikan „senjata pamungkas‟ untuk meng-counter dan memarginalkan peran wanita dalam kanca politik (kepala Negara), sedangkan pendapat yang kedua berusaha mendobrak kultus kelelakian, sehingga pendapatnya berusaha menggugat keberadaan dan keabsahan hadis tersebut. Artikel ini menganalisis bagaimana dalam konteks syariah Islam memberikan ruang dalam kekuasaan terhadap perempuan untuk menjadi pemimpin kepala Negara.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2017-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2203</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v2n1.35-54</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 2 No 1 (2017): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 35-54</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 2 No 1 (2017): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 35-54</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v2n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2203/612</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2204</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T08:14:59Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">TAFSIR AL-QUR’AN DENGAN AL-QUR’AN </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">TAFSIR AL-QUR’AN DENGAN AL-QUR’AN </dc:title>
	<dc:creator>Abdurrahman Hakim </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Analisis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Analisis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Al-Qur’an sebagai kitab suci yang berisi teks-teks sakral, yang merupakan sumber hukum Islam. Dengan kandungan yang universal, telah banyak orang membicarakannya dan menulis, tetapi tetap saja belum dipahami dengan baik. Setelah Nabi Muhammad Saw wafat, persoalan muncul dalam kehidupan sosial yang penuh tantangan dan dinamika persoalan hukum terus berlangsung dan berubah seiring perkembangan dalam permasalahan-permasalahan hukum. Dalam literatur lain dijelaskan bahwa al-Qur’an sebagai great book dalam perspektif budaya yang dapat didekati dengan pendekatan antropologis.
Kitabullah al-Qur’an dianggap sebagai petunjuk, tentunya al-Qur’an harus dipahami, dihayati, dan diamalkan. Namun pada kenyataannya, tidak semua orang bisa dengan mudah memahami al-Qur'an, bahkan para sahabat Nabi Muhammad Saw sekalipun yang secara umum menyaksikan turunya wahyu, mengetahui konteksnya, serta memahami secara ilmiah struktur bahasa dan makna kosa katanya.&amp;nbsp;
Dalam artikel ini membahas seputar tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an, walaupun masih banyak catatan yang perlu dikembangkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang begitu cepat perkembangannya sejalan dengan fenomena dan problematika sosial keagamaan terhadap tafsir tek-teks kitab suci al-Qur’an.&amp;nbsp;</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Al-Qur’an sebagai kitab suci yang berisi teks-teks sakral, yang merupakan sumber hukum Islam. Dengan kandungan yang universal, telah banyak orang membicarakannya dan menulis, tetapi tetap saja belum dipahami dengan baik. Setelah Nabi Muhammad Saw wafat, persoalan muncul dalam kehidupan sosial yang penuh tantangan dan dinamika persoalan hukum terus berlangsung dan berubah seiring perkembangan dalam permasalahan-permasalahan hukum. Dalam literatur lain dijelaskan bahwa al-Qur’an sebagai great book dalam perspektif budaya yang dapat didekati dengan pendekatan antropologis.
Kitabullah al-Qur’an dianggap sebagai petunjuk, tentunya al-Qur’an harus dipahami, dihayati, dan diamalkan. Namun pada kenyataannya, tidak semua orang bisa dengan mudah memahami al-Qur'an, bahkan para sahabat Nabi Muhammad Saw sekalipun yang secara umum menyaksikan turunya wahyu, mengetahui konteksnya, serta memahami secara ilmiah struktur bahasa dan makna kosa katanya.&amp;nbsp;
Dalam artikel ini membahas seputar tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an, walaupun masih banyak catatan yang perlu dikembangkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang begitu cepat perkembangannya sejalan dengan fenomena dan problematika sosial keagamaan terhadap tafsir tek-teks kitab suci al-Qur’an.&amp;nbsp;</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2017-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2204</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v2n1.55-86</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 2 No 1 (2017): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 55-86</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 2 No 1 (2017): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 55-86</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v2n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2204/613</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2205</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T08:22:51Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">HUKUM EKONOMI SYARIAH DALAM PENTAS EKONOMI GLOBAL DAN PERTUMBUHAN  EKONOMI DUNIA   </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">HUKUM EKONOMI SYARIAH DALAM PENTAS EKONOMI GLOBAL DAN PERTUMBUHAN  EKONOMI DUNIA   </dc:title>
	<dc:creator>Nandang Ihwanudin </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Ekonomi Syariah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kapitalisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Nasionalisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Ekonomi Syariah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kapitalisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Nasionalisme</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Artikel didasari atas berkembangnya ekonomi syariah (islamic economics) dalam dunia internasional, kondisi ini menandakan ada sesuatu yang istimewa dari konsep ekonomi syariah. Atau bahkan dapat menjadi solusi ketika sistem ekonomi kapitalis dan sosialis tidak dapat berbaut banyak terhadap perkembangan ekonomi dunia. Artikel ini menyimpulkan: pertama, sistem ekonomi yang dikenal dalam dunia ekonomi global adalah sistem ekonomi kapitalis, sistem ekonomi sosialis, dan sistem ekonomi syariah (Islam); kedua, kondisi pertumbuhan perekonomian dunia dari tahun 2015 ke tahun 2019 mengalami penurunan, namun berbeda dengan kawasan yang menerapkan instrumen perbankan syariah.; ketiga, bahwa perkembangan perekonomian terus mengalami peningkatan baik dar segi aset maupun dari segi lembaga/instirusi;&amp;nbsp;
Keempat, tantangan ekonomi syariah yang harus di hadapi oleh dunia Internasional : sistem kapitalis terlanjur mendominasi sistem perekonomian di dunia; kurangnya pemahaman masyarakat terhadap sistem keuangan dan perbankan syariah, dan masih langkanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang benarbenar paham dengan sistem ekonomi syariah; dan kelima, peluang untuk mengatasi tantangan tersebut, sebagai berikut: respon masyarakat yang antusias dalam melakukan aktivitas ekonomi dengan menggunakan prinsip-prinsip Syariah; kecenderungan yang positif di sektor non-keuangan/ekonomi, seperti sistem pendidikan, hukum dan lain sebagainya yang menunjang pengembangan ekonomi Syariah baik nasional naupun global; pengembangan instrumen keuangan Syariah yang diharapkan akan semakin menarik investor/pelaku bisnis masuk dan membesarkan industri Perbankan Syariah Nasional; dan potensi investasi dari negara-negara Timur Tengah dalam industri perbankan syariah</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Artikel didasari atas berkembangnya ekonomi syariah (islamic economics) dalam dunia internasional, kondisi ini menandakan ada sesuatu yang istimewa dari konsep ekonomi syariah. Atau bahkan dapat menjadi solusi ketika sistem ekonomi kapitalis dan sosialis tidak dapat berbaut banyak terhadap perkembangan ekonomi dunia. Artikel ini menyimpulkan: pertama, sistem ekonomi yang dikenal dalam dunia ekonomi global adalah sistem ekonomi kapitalis, sistem ekonomi sosialis, dan sistem ekonomi syariah (Islam); kedua, kondisi pertumbuhan perekonomian dunia dari tahun 2015 ke tahun 2019 mengalami penurunan, namun berbeda dengan kawasan yang menerapkan instrumen perbankan syariah.; ketiga, bahwa perkembangan perekonomian terus mengalami peningkatan baik dar segi aset maupun dari segi lembaga/instirusi;&amp;nbsp;
Keempat, tantangan ekonomi syariah yang harus di hadapi oleh dunia Internasional : sistem kapitalis terlanjur mendominasi sistem perekonomian di dunia; kurangnya pemahaman masyarakat terhadap sistem keuangan dan perbankan syariah, dan masih langkanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang benarbenar paham dengan sistem ekonomi syariah; dan kelima, peluang untuk mengatasi tantangan tersebut, sebagai berikut: respon masyarakat yang antusias dalam melakukan aktivitas ekonomi dengan menggunakan prinsip-prinsip Syariah; kecenderungan yang positif di sektor non-keuangan/ekonomi, seperti sistem pendidikan, hukum dan lain sebagainya yang menunjang pengembangan ekonomi Syariah baik nasional naupun global; pengembangan instrumen keuangan Syariah yang diharapkan akan semakin menarik investor/pelaku bisnis masuk dan membesarkan industri Perbankan Syariah Nasional; dan potensi investasi dari negara-negara Timur Tengah dalam industri perbankan syariah</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2017-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2205</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v2n1.87-110</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 2 No 1 (2017): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 87-110</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 2 No 1 (2017): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 87-110</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v2n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2205/614</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.pps.iiq.ac.id:article/2206</identifier>
				<datestamp>2025-02-03T08:44:17Z</datestamp>
				<setSpec>misykat:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	https://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">ISTIBDᾹL WAKAF: Ketentuan Hukum dan Modelnya </dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">ISTIBDᾹL WAKAF: Ketentuan Hukum dan Modelnya </dc:title>
	<dc:creator>Fahruroji </dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Istibdāl</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Wakaf</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Ketentuan Hukum</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Istibdāl</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Wakaf</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Ketentuan Hukum</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Wakaf merupakan ibadah māliyah atau ibadah dengan harta benda dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Wakaf akan bernilai ibadah yang berpahala manakala harta benda yang telah diwakafkan itu bermanfaat untuk umat, bahkan wakaf akan terus menerima pahala meskipun ia telah meninggal dunia selama harta benda yang telah diwakafkannya itu bermanfaat. Jadi, kemanfaatan harta benda wakaf untuk kemaslahatan umat merupakan prinsip utama dari ibadah wakaf. Dari sinilah kemudian muncul pendapat fuqaha yang menyatakan bahwa harta benda wakaf yang sudah tidak bermanfaat atau tidak menghasilkan boleh ditukar atau diganti dengan harta benda lainnya yang bermanfaat atau menghasilkan (istibdāl wakaf) berdasarkan pertimbangan kemaslahatan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Kebolehan penukaran harta benda wakaf atau istibdāl&amp;nbsp; wakaf berdasarkan pertimbangan kemaslahatan tersebut, diakomodir dalam peraturan perundang-undangan tentang wakaf yang membolehkan penukaran harta benda wakaf demi menjaga manfaat harta benda wakaf. Hanya saja, peraturan perundangundangan tentang wakaf belum mengakomodir semua model istibdāl wakaf yang ada dalam fiqh, seperti istibdāl wakaf parsial dan istibdāl wakaf dengan harta benda pengganti yang tidak sejenis. Peraturan perundang-undangan tentang wakaf hanya mengatur penukaran harta benda wakaf dengan harta benda pengganti yang sejenis. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Wakaf merupakan ibadah māliyah atau ibadah dengan harta benda dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Wakaf akan bernilai ibadah yang berpahala manakala harta benda yang telah diwakafkan itu bermanfaat untuk umat, bahkan wakaf akan terus menerima pahala meskipun ia telah meninggal dunia selama harta benda yang telah diwakafkannya itu bermanfaat. Jadi, kemanfaatan harta benda wakaf untuk kemaslahatan umat merupakan prinsip utama dari ibadah wakaf. Dari sinilah kemudian muncul pendapat fuqaha yang menyatakan bahwa harta benda wakaf yang sudah tidak bermanfaat atau tidak menghasilkan boleh ditukar atau diganti dengan harta benda lainnya yang bermanfaat atau menghasilkan (istibdāl wakaf) berdasarkan pertimbangan kemaslahatan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Kebolehan penukaran harta benda wakaf atau istibdāl&amp;nbsp; wakaf berdasarkan pertimbangan kemaslahatan tersebut, diakomodir dalam peraturan perundang-undangan tentang wakaf yang membolehkan penukaran harta benda wakaf demi menjaga manfaat harta benda wakaf. Hanya saja, peraturan perundangundangan tentang wakaf belum mengakomodir semua model istibdāl wakaf yang ada dalam fiqh, seperti istibdāl wakaf parsial dan istibdāl wakaf dengan harta benda pengganti yang tidak sejenis. Peraturan perundang-undangan tentang wakaf hanya mengatur penukaran harta benda wakaf dengan harta benda pengganti yang sejenis. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Program Pascasarjana IIQ Jakarta</dc:publisher>
	<dc:date>2017-06-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US">Peer-reviewed Article</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2206</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.33511/misykat.v2n1.111-150</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 2 No 1 (2017): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 111-150</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah; Vol 2 No 1 (2017): Misykat: Jurnal-ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah; 111-150</dc:source>
	<dc:source>2685-0974</dc:source>
	<dc:source>2527-8371</dc:source>
	<dc:source>10.33511/misykat.v2n1</dc:source>
	<dc:language>ind</dc:language>
	<dc:relation>https://pps.iiq.ac.id/jurnal/index.php/misykat/article/view/2206/615</dc:relation>
	<dc:relation>10.33511/misykat</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<resumptionToken expirationDate="2026-10-09T07:01:13Z"
			completeListSize="238"
			cursor="0">828c13dcc254d853642399aa268ce550</resumptionToken>
	</ListRecords>
</OAI-PMH>
