Berita

Menjembatani Al-Qur’an dan Pengalaman Manusia: IIQ Jakarta Gelar Studium Generale “Tafsir Naratif Inspiratif” Bersama Prof. Nadirsyah Hosen

64 8586

TANGERANG SELATAN — Program Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menggelar kuliah umum (Studium Generale) bertajuk “Tafsir Naratif Inspiratif: Sebuah Genre Baru dalam Penulisan Tafsir?” pada Rabu (28/10/2026). Bertempat di Aula Kampus IIQ Jakarta, acara ini menghadirkan akademisi kenamaan Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D., Professor dari University of Melbourne sekaligus Rais Syuriyah PBNU sebagai penceramah utama.

Kegiatan ilmiah ini menjadi ruang refleksi mendalam mengenai bagaimana pesan-pesan Al-Qur’an disampaikan secara relevan dan dapat menyentuh kehidupan masyarakat modern tanpa mengabaikan koridor keilmuan tafsir yang kukuh.

Mendorong Penggalian Relevansi dan Oase di Era Digital

Rektor IIQ Jakarta, Assoc. Prof. Dr. Hj. Nadjematul Faizah, S.H., M.Hum., membuka secara resmi perhelatan ini dengan menyampaikan apresiasi tinggi atas kehadiran narasumber yang juga merupakan Wakil Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Takhassus IIQ Jakarta.

“Kami sangat berterima kasih atas kesediaan Prof. Nadirsyah Hosen untuk berbagi keilmuan di Pascasarjana IIQ Jakarta. Kami mendorong para mahasiswa untuk menyimak secara kritis dan menyiapkan pertanyaan-pertanyaan berbobot,” ujar Rektor IIQ Jakarta saat menyampaikan sambutannya.

Sementara itu, Direktur Pascasarjana IIQ Jakarta, Dr. H. Muhammad Azizan Fitriana, M.A., menggarisbawahi pentingnya gagasan tafsir naratif inspiratif di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam penulisan ilmiah.

“Gagasan ini menjadi semacam ‘oase’ di tengah tren penulisan tafsir berbantuan AI. Genre ini menuntut pembacaan tafsir yang detail dan mendalam, bukan sekadar bacaan singkat yang diolah AI menjadi ratusan halaman,” tegas Dr. Muhammad Azizan Fitriana. Beliau juga mengucapkan selamat atas pelantikan Prof. Nadirsyah sebagai Rais Syuriyah PBNU periode terbaru.

Gus Nadir: “Al-Qur’an Tidak Harus Disederhanakan, tetapi Disampaikan Lewat Bahasa Pengalaman”

Dalam pemaparannya yang berlangsung dinamis, Prof. Nadirsyah Hosen, yang akrab disapa Gus Nadir, menjelaskan bahwa pendekatan tafsir naratif inspiratif bukan hadir untuk menawarkan metode baru penentuan hukum atau makna, melainkan sebuah genre baru dalam menyampaikan hasil penafsiran.

Gagasan tersebut berawal dari buku karyanya yang berpredikat best seller, Ketika Al-Qur’an Jatuh di Hati Hamba yang Merasa Biasa. Buku tersebut memotret pergulatan batin berbagai profesi manusia biasa seperti dokter, pengemudi ojek online, hingga pedagang, saat berjumpa dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

“Masyarakat Muslim Indonesia sangat dekat dengan bacaan Al-Qur’an, tetapi kedekatan dengan bacaan belum tentu diikuti kedekatan dengan pesannya. Persoalannya bukan Al-Qur’an kekurangan petunjuk, melainkan bagaimana petunjuk itu dipahami, dihayati, dan dihadirkan dalam kehidupan,” papar Gus Nadir.

Beliau mengingatkan bahwa Al-Qur’an adalah hudan linnas (petunjuk bagi seluruh manusia), bukan hanya milik kalangan akademisi atau ulama. Orang biasa mungkin tidak menguasai i’rab atau munasabah, namun mereka sangat akrab dengan rasa sedih, cemas, kehilangan, dan harapan.

“Al-Qur’an tidak harus disederhanakan agar dapat menyentuh manusia biasa. Yang perlu dilakukan adalah menemukan cara menyampaikan kedalaman maknanya melalui bahasa yang dekat dengan pengalaman mereka,” tegas Rais Syuriyah PBNU tersebut.

Menjaga “Pagar” Keilmuan dan Mengajak Uji Akademik

Gus Nadir secara khusus menekankan pentingnya batasan metodologis agar pendekatan naratif tidak terjebak dalam praktik cocokologi. Beliau merumuskan lima prinsip utama, salah satunya adalah memastikan bahwa penafsiran ayat harus mendahului pembuatan cerita, serta membedakan secara tegas antara tafsir keilmuan dan refleksi batin (tadabbur).

“Tafsir naratif inspiratif adalah bentuk penulisan tafsir yang menyampaikan makna Al-Qur’an melalui kisah kehidupan manusia, dengan menjadikan penafsiran sebagai fondasi, narasi sebagai medium, dan refleksi etis-spiritual sebagai tujuan komunikatif,” terang Gus Nadir mendefinisikan pendekatannya.

Di akhir sesi, beliau melempar gagasan ini kepada sivitas akademika Pascasarjana IIQ Jakarta untuk diuji dan dikaji lebih lanjut dalam ranah ilmiah maupun penulisan tesis.

“Ini adalah bentuk ijtihad untuk mendekatkan Al-Qur’an kepada umat. Jika salah mendapat satu pahala, dan jika benar mendapat dua pahala. Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat hidup yang selalu menyapa hati,” pungkasnya.

Diskusi Interaktif dan Penutup

Kuliah umum dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif bersama para mahasiswa magister dan doktoral yang membahas pengemasan narasi tafsir untuk media sosial, majelis taklim lansia, hingga isu mitigasi bencana.

Rangkaian acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat penghargaan oleh Rektor IIQ Jakarta kepada Prof. Nadirsyah Hosen, doa bersama yang dipimpin oleh Kaprodi Doktor Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Dr. Ahmad Syukron, M.A., serta sesi foto bersama. (FP)

Berita lainnya

Lihat semua