
Program Pascasarjana (PPs) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) bekerja sama dengan UIN Fatmawati Bengkulu, UIN Sumatera Utara dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Seminar Nasional bertema “Mahalnya Sekolah Islam: Antara Aksestabiltas dan Religiusitas”. Kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu, 1 November 2025 di Ruang Kelas Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta dan dihadiri oleh para dosen serta mahasiswa Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Acara dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Dr. Syahidah Rena, M.Ed.
Ibu Dr. Salminawati, S.S., M.A. dari UIN Sumatera Utara Medan mengungkapkan bahwa Sekolah Islam semakin diminati masyarakat Indonesia dikarenakan muncul berbagai label; Islam Terpadu, Islam Unggulan, Boarding School Islami. Namun, biaya pendidikan yang tinggi menimbulkan perdebatan. Pertanyaan muncul: Apakah pendidikan Islam kini hanya untuk kalangan tertentu?
Sekolah Islam yang mahal itu, lanjut Bu Salminawati karena menggabungkan kurikulum nasional dan agama misalnya tahfiz, fikih dan bahasa Arab. Selain itu pula, sekolah Islam tersebut menawarkan fasilitas lengkap dan tenaga pengajar profesional. Sehinggal mengakibatkan munculnya branding sekolah Islam sebagai lembaga elit dan modern. Maka konsekuensinya adalah biaya operasional meningkat signifikan.
Hal senada juga diutarakan oleh Bu Dr. Nurlalili, S.Ag., M.Pd.I. (Kaprodi S2 PAI UIN Fatmawati Bengkulu) bahwa sekolah Islam modern (SD hingga SMA) berkembang pesat, menawarkan sistem pendidikan bermutu tinggi yang memunculkan citra sebagai pilihan premium. Menggabungkan kurikulum nasional, internasional, dan ilmu keislaman. Fokus intensif pada penguatan tahfiz Al-Qur’an dan pembentukan karakter Islami. Dan juga pemanfaatan teknologi pembelajaran yang canggih dan modern.
Dosen PAI Pascasarjana IIQ Jakarta, Dr. Muh. Ubaidillah Alghifary Slamet mengingatkan bahwa pendidikan Islam seharusnya tidak menjadi simbol status sosial, melainkan media untuk membentuk generasi yang religius, berakhlak, dan berpengetahuan luas. Karena itu, diperlukan keseimbangan antara mutu, misi dakwah, dan aksesibilitas agar pendidikan Islam menjadi instrumen keadilan sosial.
Kaprodi S2 PAI Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta memperkuat pernyataan di atas bahwa biaya pendidikan yang tinggi sebagai hambatan utama dalam aksesibilitas pendidikan Islam, memperburuk kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan serta menciptakan komodifikasi religiusitas. Meskipun biaya tinggi tidak selalu meningkatkan religiusitas, kualitas interaksi guru-siswa lebih berpengaruh. Untuk meningkatkan akses, diperlukan distribusi sumber daya yang adil, pemanfaatan teknologi, dan model pendidikan berbasis komunitas yang lebih terjangkau. Kebijakan yang inklusif dan holistik sangat penting untuk memastikan pendidikan Islam berkualitas dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.
Seminar Nasional ini berlangsung hangat dan interaktif ini menjadi ruang refleksi sekaligus motivasi bagi para dosen dan juga mahasiswa Pascasarjana IIQ Jakarta. Melalui Seminar Nasional ini diharapkan lahir langkah konkret untuk memperkuat aksestabilitas dan juga religiusitas dalam sekolah Islam. Sekolah Islam mampu menjadi lembaga pendidikan Islam yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter. (FS)







