
Jakarta, Senin 25 September 2023. IIQ (Institut Islam Al Qur’an) Jakarta menerima kunjungan kerjasama dari Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an Kudus. Rektor IIQ Ibu Dr. Hj. Nadjematul Faizah SH M.Hum., Direktur Pascasarjana IIQ Bapak Dr. H. Muhammad Azizan Fitriana M.A., Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Takhassus IIQ Bapak Dr. KH. Ahmad Fathoni, Lc., M.A., Wakil Rektor I Bidang Akademik Ibu Dr. Hj. Romlah Widayati, M.Ag. dan beberapa pimpinan IIQ Jakarta turut hadir dalam menyambut kedatangan rombongan dari Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an.

Kunjungan Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an Kudus ke Kampus IIQ Jakarta berjalan secara khidmat, lancar dan penuh emosional, lantaran kunjungan dari Yanbu’ul Qur’an Kudus ini membuka kenangan beberapa tokoh IIQ Jakarta dengan para pengasuh di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus. Salah satunya adalah kenangan beliau pakar Ilmu Qiraat IIQ sekaligus Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Takhassus IIQ Bapak Dr. KH. Ahmad Fathoni, Lc., M.A. dengan Simbah KH Muhammad Arwani Amin Said Pendiri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’ab Kudus. Kiai Fathoni bercerita tentang kisah dan kenangannya bertemu dengan Mbah Kiai Arwani Kudus untuk yang pertama kali.
Pada sekitar tahun 1980-an, setelah lulus dari Universitas Islam Madinah, Kiai Fathoni merupakan satu-satunya Dosen Ilmu Qiraat di IIQ, bahkan mungkin juga satu-satunya Ahli Ilmu Qiraat di Jakarta. Beliau merupakan kakak kelas dua tingkat KH Dr. Ahsin Sakho Muhammad ketika menempuh studi di Universitas Islam Madinah. Saat itu, kajian tentang Ilmu Qiraat masih sangat langka, tidak seperti sekarang, yang sudah mulai diminati oleh banyak orang. Referensi tentang Ilmu Qiraat, khususnya pengajaran Ilmu Qiraat di ranah akademik yang bersifat teoretis dan praktis, pun masih terbatas.
Atas dasar itu, kemudian Kiai Fathoni berinisiatif untuk berkunjung dan sowan ke kediaman para Kiai Ahli Qur’an. Oleh karena beliau dulu ngajinya di Krapyak, pernah ber-musyafahah kepada Kiai Ahmad bin Munawwir, beliau pun sowan ke beberapa Kiai di Yogyakarta, yang diantaranya adalah: Mbah Kiai Nawawi Pengasuh PP An-Nur Ngrukem dan Mbah Kiai Najib Abdul Qadir Munawwir cucu Kiai Munawwir Pengasuh PP Al Munawwir Krapyak. Dari kedua Kiai ini, Kiai Fathoni menemukan manuskrip Kitab “Faidhul Barakat fi Sab’il Qiraat” karya Mbah Kiai Arwani Kudus. Manuskrip ini merupakan salinan ngaji Qiraat Sab’ah yang pernah ditempuh oleh Kiai Nawawi dan Kiai Najib kepada Mbah Arwani tempo dulu. Faidhul Barakat fi Sab’il Qiraat ini merupakan kitab panduan mengaji dan musyafahah Qiraat Sab’ah secara praktik, khususnya dalam hal tatacara menjamak seluruh riwayat yang ada dalam setiap ayat. Sebelum Kitab Faidhul Barakat ini dicetak, dalam proses setoran Qiraat Sab’ah yang dilakukan oleh para santri kepada Mbah Kiai Arwani, ada proses menyalin naskah Faidhul Barakat sebelum menyetorkannya secara musyafahah kepada Kiai Arwani.
Saat melihat naskah Faidhul Barakat tersebut, Kiai Fathoni terkesima dan takjub. Beliau pun berkata kepada Kiai Nawawi dan Kiai Najib, bahwa beliau ingin menyalin atau memfotokopi naskah itu untuk dijadikan pegangan dalam mengajar Ilmu Qiraat, khususnya ketika mengajar ilmu ini di IIQ Jakarta. Namun, keduanya tidak berani memberikan izin, sebab naskah Faidhul Barakat tersebut, pada saat itu, hanya boleh diakses oleh para santri Qur’an yang sudah setoran Qiraat Sab’ah kepada Kiai Arwani atau kepada murid beliau, padahal Kiai Fathoni belum pernah setoran Qiraat Sab’ah kepada Kiai Arwani. Oleh karenanya, Kiai Nawawi dan Kiai Najib pun menyarankan Kiai Fathoni agar sowan langsung kepada Mbah Kiai Arwani.
Akhirnya, Kiai Fathoni memberanikan diri untuk sowan Mbah Kiai Arwani. Saat menceritakan kisah pisowanan ini, beberapa kali Kiai Fathoni menyeka dan menahan air mata. Beliau sangat terkenang dengan perjumpaan untuk yang pertama kali dengan Mbah Kiai Arwani. Kiai Fathoni bercerita, bahwa Mbah Kiai Arwani sangat senang dengan kedatangannya. Beliau pun disambut dan dijamu secara istimewa. Kiai Fathoni diajak makan bareng oleh Mbah Kiai Arwani, bahkan beliau juga diminta untuk menginap di kediaman Mbah Arwani.

Saat Kiai Fathoni berkata bahwa beliau ingin mendapatkan naskah Faidhul Barakat fi Sab’il Qiraat dan memohon izin serta ijazah dari Mbah Kiai Arwani supaya bisa diajarkan kepada murid-murid Kiai Fathoni di Jakarta, Mbah Arwani hanya berkata singkat.
“Fardhu Kifayah Jakarta!”
Mbah Arwani lalu mengijazahkan Kitab Faidhul Barakat dan mengizinkan Kiai Fathoni untuk menyalin kitab tersebut, serta menjadikannya sebagai salah satu referensi pegangan dalam mengajar Ilmu Qiraat Sab’ah di IIQ, yang waktu itu masih sangat langka peminat dan pengkajinya. Belakangan beliau baru menyadari, bahwa ternyata maksud daripada dhawuh Mbah Arwani tadi adalah bahwa: hukumnya beliau mengkaji dan mengajarkan Ilmu Qiraat Sab’ah di IIQ Jakarta itu Fardhu Kifayah. Ketika sudah dilaksanakan, maka Ngaji Ilmu Qiraat bagi orang Islam se-Jakarta telah gugur kewajibannya. Setelah itu, Kiai Fathoni menganggap Mbah Kiai Arwani sebagai gurunya sendiri. Hubungan itu begitu kuat, sampai-sampai beliau tidak pernah meninggalkan kiriman bacaan Surat Al Fatihah khusus untuk Mbah Kiai Arwani setiap bakda shalat maktubah. (Reportase: Sahal)



