
IIQ Jakarta- Program Pascasarjana IIQ Jakarta mengadakan diskusi internasional terkait filsafat dan tafsir. Pembicara Tunggal pada acara tersebut adalah Prof. Dr. Mohammad Javad Rudgar, Kepala Departemen Filsafat, Irfan dan Spiritualitas Institut Penelitian dan Pemikiran Islam Iran. Diskusi tersebut diselenggarakan pada Sabtu, 30 September 2023 di Aula IIQ Jakarta.
Diskusi tersebut dihadiri oleh Rektor IIQ Jakarta yaitu Dr. Hj. Nadjmatul Faizah, SH, M.Hum, Prof. Dr. H. Artani Hasbi, MA (Gubes IIQ Jakarta), Dr. Hj. Romlah Widayati, MAg. (Warek 1), Dr. H. Muhammad Azizan Fitriana, MA, (Direktur PPs IIQ Jakarta), Dr. H. Ahmad Syukron, MA, (Kaprodi Doktor IAT), segenap dosen dan mahasiswa program pascasarjana IIQ Jakarta.
Kajian utama dalam diskusi tersebut adalah “Meneliti Wacana Irfan di Dalam Al-Qur’an”. Irfan merupakan salah satu epistemologi sufi yang merupakan model penalaran yang dikenal dalam tradisi keilmuan Islam selain bayani dan burhani. Epistemologi irfani adalah model pemikiran yang dikembangkan di kalangan suifi, sedangkan epistemology bayani dikembangkan oleh kalangan filosof, dan epistemology burhani dikembangkan pada disiplin keilmuan Islam pada umumnya.
Kata Irfan sendiri berasal dari kata Bahasa Arab arafa yang memiliki arti sama dengan makrifat, berarti pengetahuan, tetapi berbeda dengan ilmu. Irfan sendiri adalah pengetahuan yang langsung bersumber dari Allah yang diperoleh secara mukayafah melalui riyadhah atau olah ruhani yang dilakukan atas dasar cinta atau iradah (keinginan yang kuat.
Dalam satu pembahasannya terkait dengan hijrah, Prof. Javad Rudgar menyatakan bahwa hijrah terbagi dua yaitu afaqi dan anfusi. Hijrah afaqi adalah hijrah terkait dengan tempat, yakni perpindahan dari satu tempat yang kurang baik, ke tempat yang lebih baik. Sedangkan hijrah anfusi adalah hijrah ruhani yakni perpindahan diri/jiwa/perilaku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Kemudian muncul pertanyaan, jika hijrah dikatakan sebagai berpindah dari yang tidak baik kepada yang lebih baik, bagaimana dengan orang yang sudah tergolong sebagai orang yang baik, harus hijrah kemana mereka? Prof javad Rudgar menjelaskan bahwa jika seseorang sudah pada posisi yang baik makai a tetap dapat berhijrah yaitu untuk menemukan derajat manusia sebenarnya, yakni kemuliaan yang ditandai dengan mardhatillah (keridhaan Allah swt).
Selanjutnya pertanyaan terkait kedudukan orang mukmin dan orang kafir di akhirat pada Qs. Al-Bayyinah, 98: 6-8. Mengapa kedudukan orang-orang kafir di neraka bersifat tidak kekal, karena tidak ada kalimat “khaalidiina fiihaa”. Sedangkan kedudukan orang-orang mukmin di syurga bersifat kekal karena dalam ayat tersebut diikuti oleh kata “khaalidiina fiihaa”. Prof. Javad Rudgar menjelaskan bahwa bagi orang kafir bersifat tidak kekal di dalam neraka karena Allah swt hendak memberikan peluang kepada mereka yang mungkin saja jika dianggap telah bersih jiwa kotornya/kekafirannya oleh siksa neraka, maka mereka dapat upgrade kedudukannya dan masuk ke dalam syurga. Sedangkan kedudukan bagi orang mukmin di dalam syurga bersifat kekal karena syurga adalah puncak pencapaian tertinggi bagi seorang manusia/hamba yang salih, takwa, Ikhlas dan lain sebagainya.
Diskusi terkait dengan wacana irfan dalam penafsiran al-Qur’an berlangsung dengan menarik. Banyak mahasiswa yang bertanya dan berpendapat merespon penjelasan dari Prof. Javad Rudgar. Banyak ilmu yang didapatkan dari diskusi tersebut, yang tentu menambah wawasan khususnya bagi mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Program Pascasarjana IIQ Jakarta.
Diskusi tersebut berlangsung selama 2 jam dimulai pada pukul 16.00 – 18.00 WIB. Acara diskusi tersebut ditutup dengan ramah tamah Prof. Dr. Mohammad Javad Rudgar, beserta rombongan dengan pimpinan IIQ Jakarta. (AS)




